BISNIS DAN DTRAVEL

Cakra Elektrolisis FisTx Mulai Digunakan Tambak Besar di Pulau Jawa

Pasang Iklan di QueenNews.id

QueenNews.id — Teknologi sterilisasi air tambak buatan dalam negeri mulai mendapat perhatian dari pelaku industri akuakultur. FisTx Indonesia, perusahaan teknologi akuakultur berbasis di Yogyakarta, memperkenalkan Cakra Elektrolisis sebagai sistem sterilisasi air tambak berbasis elektrokimia yang dikembangkan sebagai alternatif penggunaan kaporit.

Teknologi tersebut, yang diperkenalkan pada awal 2026, kini telah beroperasi di empat titik strategis di Pulau Jawa. FisTx menyebut keberadaan sejumlah instalasi tersebut menjadi kesempatan bagi petambak dan pelaku industri untuk melihat secara langsung penerapan teknologi elektrolisis dalam operasional budidaya.

Empat lokasi tersebut tersebar di sejumlah kawasan sentra tambak. Di Jawa bagian timur, Cakra Elektrolisis beroperasi di kawasan Pantai Blimbingsari, Banyuwangi. Sementara di Jawa bagian barat, teknologi tersebut dapat ditemui di Kota Serang, Banten.

Lokasi lainnya berada di pesisir selatan Jawa, tepatnya di Purworejo melalui Tambak KSO FisTx, serta di kawasan Pantura, Jepara, pada PT Ghana Utamadi Dhuniara.

Keberadaan instalasi di empat wilayah tersebut juga memberikan gambaran penerapan teknologi pada kondisi tambak yang berbeda. Perbedaan sumber air, salinitas, luas area, serta pola operasional menjadi faktor yang perlu diperhitungkan sebelum teknologi sterilisasi diterapkan.

FisTx membuka kesempatan bagi petambak, pengelola tambak, maupun pemangku kepentingan industri udang untuk melakukan pengecekan langsung. Calon pengguna dapat mengunjungi lokasi dan mengambil sampel air untuk kemudian diuji menggunakan laboratorium atau perangkat pengujian yang mereka pilih.

Menurut FisTx, pendekatan tersebut dilakukan agar evaluasi teknologi tidak hanya berdasarkan informasi dari produsen. Pengujian secara langsung diharapkan memberikan gambaran yang lebih objektif mengenai kondisi air setelah melalui proses elektrolisis.

CEO FisTx Indonesia, Rico Wisnu Wibisono, mengatakan respons dari tambak-tambak di Pulau Jawa menunjukkan semakin terbukanya pelaku budidaya terhadap penggunaan teknologi lokal.

“Cakra dikembangkan berdasarkan kebutuhan nyata di lapangan. Kami ingin memberikan alternatif bagi petambak yang selama ini menggunakan kaporit dan harus melakukan pembelian serta penanganan bahan tersebut berulang kali. Kami juga terbuka jika calon pengguna ingin datang, mengambil sampel air, dan melakukan pengujian sendiri,” ujar Rico.

Biosecurity Jadi Perhatian dalam Budidaya Udang

Kebutuhan terhadap teknologi pengelolaan air semakin relevan seiring perkembangan industri budidaya udang nasional. Intensifikasi budidaya membuat pengelolaan kualitas air dan penerapan biosecurity menjadi bagian penting dalam menjaga kondisi lingkungan tambak.

Berita lainnya :  KAI Daop 4 dan Kapolri Pastikan Kesiapan Pengamanan Nataru di Stasiun Semarang Tawang, Wujudkan Perjalanan KA Aman dan Menyenangkan

Data yang disampaikan dalam materi FisTx menunjukkan produksi udang nasional pada April 2026 berada di kisaran lebih dari 1 juta ton. Pemerintah juga memiliki target produksi sekitar 2 juta ton per tahun.

Dari sisi perdagangan, nilai ekspor udang Indonesia pada Januari-September 2025 tercatat sekitar US$1,4 miliar, meningkat 17,5 persen dibandingkan periode sebelumnya. Amerika Serikat menjadi salah satu pasar utama dengan kontribusi sekitar 63,1 persen.

Pertumbuhan tersebut turut meningkatkan perhatian terhadap efisiensi proses budidaya. Dalam operasional tambak, air menjadi salah satu komponen penting yang berkaitan dengan kesehatan organisme budidaya dan stabilitas lingkungan kolam.

Pasang Iklan di QueenNews.id

Selama ini, kaporit menjadi salah satu bahan yang digunakan dalam proses sterilisasi air. Penggunaannya membutuhkan aktivitas pembelian, transportasi, penyimpanan, dan penanganan bahan secara berkala.

FisTx mengembangkan Cakra Elektrolisis sebagai alternatif sterilisasi yang tidak menggunakan kaporit. Teknologi tersebut memanfaatkan proses elektrokimia untuk mendukung pengelolaan air tambak.

Bagian dari Sistem Disinfeksi FisTx

Cakra Elektrolisis tidak berdiri sendiri. Teknologi tersebut merupakan bagian dari FisTx Disinfectan System (FDS), sebuah sistem yang juga mencakup Baskara UV dan Nano Disinfektan.

FisTx turut memperkenalkan teknologi tersebut dalam ajang FARM 2026 yang berlangsung di Swissôtel Jakarta PIK Avenue pada 29 September 2026. Demonstrasi Cakra Elektrolisis menjadi salah satu aktivitas di booth FisTx dan menarik perhatian lebih dari 350 pengunjung.

Sebagian besar pengunjung yang hadir dalam demonstrasi tersebut berasal dari kalangan teknisi dan pemilik tambak udang. Interaksi tersebut menjadi kesempatan bagi FisTx untuk menjelaskan mekanisme teknologi sekaligus mendiskusikan kebutuhan pengelolaan air di lapangan.

Berita lainnya :  FisTx Indonesia Perluas Solusi Akuakultur Terintegrasi ke Pakistan dan Timur Tengah

Salah satu gambaran penerapan teknologi tersebut terlihat pada Kolam B7 di area tambak Banyuwangi-Pantai Blimbingsari. Berdasarkan data yang disampaikan FisTx, kolam dengan luas 5.000 meter persegi yang menggunakan Cakra Elektrolisis mencatat hasil panen siklus pertama pada Juli 2026 sebesar 9.501 kilogram.

Pada siklus tersebut, usia budidaya atau DOC tercatat 80 hari, dengan Feed Conversion Ratio (FCR) 1,21 dan Survival Rate (SR) 82 persen.

Data tersebut menjadi salah satu contoh performa lapangan yang dapat dijadikan bahan evaluasi, meskipun hasil budidaya tetap dipengaruhi berbagai faktor lain seperti manajemen pakan, kualitas benur, kondisi lingkungan, dan tata kelola tambak.

Spesifikasi Tidak Bisa Disamaratakan

FisTx menekankan bahwa kebutuhan sistem sterilisasi tidak dapat diseragamkan untuk seluruh tambak. Setiap lokasi memiliki karakteristik yang berbeda, mulai dari luas kolam dan sumber air hingga tingkat salinitas serta pola pengelolaan budidaya.

Karena itu, perusahaan menyarankan calon pengguna melakukan konsultasi teknis sebelum menentukan konfigurasi Cakra Elektrolisis. Penyesuaian spesifikasi terhadap kondisi lapangan diperlukan agar sistem dapat bekerja sesuai kebutuhan operasional tambak.

Dengan empat titik penerapan yang tersebar di Jawa, FisTx berharap calon pengguna memiliki kesempatan untuk melihat teknologi secara langsung sekaligus melakukan evaluasi berdasarkan kondisi lapangan.

Bagi industri akuakultur, pendekatan berbasis data dan pengujian langsung menjadi penting karena kualitas air merupakan salah satu faktor yang menentukan keberlangsungan proses budidaya. Kehadiran teknologi lokal seperti Cakra Elektrolisis juga menunjukkan bahwa inovasi dalam negeri mulai diarahkan untuk menjawab kebutuhan spesifik industri perikanan Indonesia.

Melalui pengembangan teknologi sterilisasi air dan sistem pendukung budidaya, FisTx Indonesia terus mendorong penggunaan teknologi yang disesuaikan dengan kebutuhan operasional tambak. Cakra Elektrolisis menjadi salah satu solusi yang ditawarkan untuk membantu pelaku usaha mengembangkan pengelolaan air dan biosecurity dalam kegiatan budidaya udang.

Press release ini juga sudah tayang di VRITIMES

Pasang Iklan di QueenNews.id

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

BISNIS DAN DTRAVEL

Merayakan Tiga Tahun Inovasi Akar Rumput: Accelerator Lab UNDP Indonesia Dorong Pembangunan Perkotaan Berkelanjutan

  • Kamis, 13 Februari 2025
Seiring laju urbanisasi dan tantangan iklim, peran masyarakat menjadi semakin penting sebagai pendorong perubahan. Sejak 2021, Accelerator Lab UNDP Indonesia
BISNIS DAN DTRAVEL

Jasavalas.com Resmi Diluncurkan, Permudah Pengiriman Uang ke China dengan Biaya Rendah

  • Selasa, 18 Februari 2025
QueenNews.id – Jasa Valas, perusahaan baru di bidang remitansi, dengan bangga meluncurkan situs resminya, Jasavalas.com, pada Februari 2025. Platform ini