FisTx Indonesia Perluas Solusi Akuakultur Terintegrasi ke Pakistan dan Timur Tengah
QueenNews.id – Industri akuakultur di Pakistan, Asia Selatan, hingga kawasan Timur Tengah mulai membuka peluang penerapan teknologi budidaya berkelanjutan dari Indonesia. Melalui kerja sama strategis antara PT Aditya Inovasi Makmur (FisTx) dan Pak Gharo Agri & Livestock Farms (PGA&LF), pelaku industri perikanan budidaya di kawasan tersebut akan mendapatkan akses terhadap solusi akuakultur terintegrasi yang mencakup kebutuhan dari hulu hingga hilir.
Kerja sama ini ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara kedua perusahaan. Dalam kemitraan tersebut, Pak Gharo Agri & Livestock Farms ditunjuk sebagai Perwakilan Resmi sekaligus Distributor Eksklusif FisTx untuk wilayah Pakistan dan kawasan sekitarnya.
Kolaborasi ini hadir menjawab berbagai tantangan yang masih dihadapi industri akuakultur regional, seperti sulitnya menjaga kualitas air tambak, meningkatnya biaya penggunaan bahan kimia untuk disinfeksi, hingga ancaman penyakit akibat patogen yang dapat mengganggu produktivitas budidaya.
CEO Pak Gharo Agri & Livestock Farms, Arshad Aziz, mengatakan bahwa industri akuakultur saat ini membutuhkan solusi yang tidak hanya berfokus pada satu produk, tetapi mampu memberikan pendekatan menyeluruh untuk meningkatkan keberhasilan budidaya.
“Pelaku akuakultur membutuhkan sistem biosekuriti yang dapat diterapkan secara nyata di lapangan. Solusi FisTx yang mencakup teknologi sterilisasi air, nutrisi, hingga pendampingan teknis menjadi pelengkap bagi pengalaman kami dalam mengembangkan proyek budidaya berkelanjutan,” ujar Arshad.
Melalui kerja sama tersebut, FisTx menghadirkan lima rangkaian solusi utama, yaitu teknologi sterilisasi air, nutrisi ikan dan udang melalui AquaSupport, perencanaan serta pembangunan tambak modern melalui Aquadex, pendampingan budidaya lapangan melalui Program TAMPAN, serta pelatihan dan pengembangan kemitraan strategis.
Salah satu teknologi yang menjadi fokus utama adalah FisTx Disinfection System (FDS), sebuah sistem biosekuriti air yang dirancang untuk membantu menjaga kualitas lingkungan tambak tanpa bergantung pada penggunaan kaporit. Teknologi ini menggabungkan tiga pendekatan, yaitu Baskara UV dengan teknologi UV-C, Cakra Elektrolisis berbasis oksidasi elektrokimia, serta Nano Disinfektan berbasis ion nano tembaga.
Kombinasi teknologi tersebut dikembangkan untuk membantu mengendalikan berbagai mikroorganisme penyebab penyakit sekaligus mendukung efisiensi operasional tambak melalui sistem pengelolaan air yang lebih modern.
Founder sekaligus CEO FisTx, Rico Wisnu Wibisono, menjelaskan bahwa perusahaan sejak awal membangun pendekatan berbasis ekosistem agar pelaku usaha tidak perlu menggunakan banyak penyedia teknologi berbeda dalam satu siklus produksi.
“FisTx tidak hanya menghadirkan produk, tetapi membangun ekosistem solusi yang saling terhubung. Dengan dukungan Pak Gharo, kami berharap teknologi ini dapat diterapkan secara lebih luas dan memberikan manfaat bagi industri akuakultur di Pakistan, Asia Selatan, hingga Timur Tengah,” kata Rico.
Sebelumnya, FisTx telah mengembangkan teknologi akuakultur di berbagai wilayah Indonesia serta memperluas jangkauan ke sejumlah negara seperti Kuwait, Timor-Leste, dan Bahrain. Dalam lima tahun operasionalnya, perusahaan mencatat distribusi lebih dari 40.000 produk serta peningkatan keberhasilan budidaya hingga 83,6 persen berdasarkan data pengguna.
Ke depan, kedua perusahaan akan menyusun perjanjian kemitraan lanjutan yang mencakup target implementasi, indikator kinerja, serta evaluasi berkala. Langkah tersebut diharapkan menjadi fondasi untuk mempercepat penerapan teknologi akuakultur berkelanjutan di kawasan regional.
Melalui kolaborasi internasional ini, FisTx Indonesia memperkuat posisi teknologi nasional dalam mendukung transformasi industri perikanan global sekaligus membuka peluang baru bagi pengembangan budidaya yang lebih efisien, aman, dan berkelanjutan.
Press release ini juga sudah tayang di VRITIMES


