FisTx Indonesia Buka Skema KSO untuk Dorong Budidaya Udang
QueenNews.id — Keterbatasan modal, lahan yang belum produktif, dan minimnya pengalaman teknis menjadi sejumlah tantangan yang kerap dihadapi calon pelaku usaha budidaya udang. Melihat kondisi tersebut, perusahaan teknologi akuakultur asal Yogyakarta, FisTx Indonesia, memperkenalkan skema Kerja Sama Operasional (KSO) budidaya udang yang mempertemukan investor, pemilik lahan, dan operator berpengalaman dalam satu model kerja sama.
Skema tersebut dirancang untuk membuka peluang bagi pemilik modal yang ingin masuk ke bisnis budidaya udang tetapi belum memiliki lahan maupun kemampuan teknis. Pada saat yang sama, pemilik tambak yang belum dapat beroperasi karena keterbatasan modal juga memperoleh alternatif untuk mengaktifkan kembali asetnya.
Dalam model tersebut, FisTx Indonesia mengambil peran sebagai operator yang menjalankan proses budidaya berdasarkan standar operasional prosedur (SOP), mulai dari persiapan air, pengelolaan tambak, pemantauan selama masa pemeliharaan hingga proses panen.
Head of Farming Division FisTx Indonesia, Bachtiar, mengatakan model tersebut dikembangkan berdasarkan persoalan yang ditemukan perusahaan selama mendampingi kegiatan budidaya di lapangan.
“Konsep KSO ini dibuat untuk mempertemukan kebutuhan tiga pihak sekaligus. Investor dapat berpartisipasi tanpa harus menguasai seluruh aspek teknis tambak, pemilik lahan dapat mengoptimalkan asetnya, sedangkan pengelolaan operasional dilakukan oleh tim yang bekerja berdasarkan SOP dan data,” ujar Bachtiar.
Risiko Budidaya Menjadi Perhatian
Bisnis budidaya udang memiliki prospek ekonomi yang menarik, tetapi juga menghadirkan risiko operasional yang perlu dikelola secara hati-hati. Menurut FisTx, sejumlah persoalan di lapangan dapat bermula dari desain kolam yang kurang sesuai dengan kondisi hidrodinamika, pengambilan keputusan berdasarkan intuisi, hingga penggunaan benur, pakan, dan probiotik yang tidak memiliki standar yang konsisten.
Situasi tersebut dapat membuat investor pemula ragu untuk masuk ke sektor budidaya. Sebaliknya, pemilik tambak yang sudah memiliki infrastruktur juga dapat kesulitan memulai siklus baru ketika tidak memiliki modal kerja dan tim operasional yang memadai.
Melalui KSO, FisTx mencoba menggabungkan sumber daya tersebut dalam sebuah mekanisme kerja sama yang disepakati sejak awal.
Enam Tahap Pengelolaan Tambak
Pelaksanaan KSO FisTx dimulai dengan survei dan uji kelayakan lokasi. Tahap ini menjadi dasar untuk menentukan apakah suatu lahan memiliki kondisi yang sesuai untuk dikembangkan sebagai lokasi budidaya.
Setelah lokasi dinilai layak, para pihak menyusun kontrak KSO yang mengatur bentuk kerja sama dan pembagian hasil. Tahap berikutnya mencakup instalasi teknologi, peningkatan infrastruktur kolam, penyiapan sumber daya manusia, serta penerapan SOP budidaya.
Ketika siklus dimulai, aktivitas tambak disertai pencatatan data harian. Data tersebut digunakan untuk memantau perkembangan budidaya dan menjadi bagian dari evaluasi operasional. Setelah masa pemeliharaan selesai, proses dilanjutkan dengan panen dan penghitungan bagi hasil sesuai ketentuan dalam kontrak.
FisTx menyediakan beberapa alternatif kerja sama, yakni Full Operational KSO, Technical Advisory KSO, serta Hybrid atau Performance. Perbedaan skema tersebut memungkinkan model pengelolaan disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan mitra.
Pada skema pengelolaan penuh, dukungan teknologi dapat mencakup sistem sterilisasi air seperti Baskara UV dan Cakra Elektrolisis. FisTx juga menyediakan pendampingan teknisi melalui Program TAMPAN serta dukungan peningkatan infrastruktur melalui AQUADEX.
Budidaya Udang Berkaitan dengan Ketahanan Pangan
Pengembangan budidaya udang juga memiliki keterkaitan dengan agenda penguatan sektor perikanan dan ketahanan pangan. Dalam Rencana Kerja Pemerintah 2026, Kementerian Kelautan dan Perikanan menargetkan nilai ekspor perikanan di atas US$6,7 miliar dan produksi perikanan mencapai 25,84 juta ton.
Pemerintah juga melihat komoditas udang sebagai salah satu sektor yang memiliki peluang untuk terus dikembangkan, termasuk melalui investasi dan peningkatan produktivitas dengan tetap memperhatikan aspek keberlanjutan.
CEO FisTx Indonesia Rico Wisnu Wibisono mengatakan optimalisasi lahan tambak dapat memberikan dampak yang lebih luas ketika dilakukan dengan tata kelola yang terukur.
“Udang memiliki nilai ekonomi sekaligus peran dalam rantai pasok pangan. Ketika lahan yang sebelumnya tidak aktif dapat kembali digunakan dengan pengelolaan yang baik, manfaatnya tidak hanya dirasakan pemodal dan pemilik lahan, tetapi juga tenaga kerja serta pelaku usaha yang berada di sepanjang rantai pasok,” kata Rico.
FisTx Utamakan Survei Sebelum Kerja Sama
FisTx Indonesia menyebut pengalaman operasionalnya mencakup sejumlah wilayah. Berdasarkan data internal perusahaan, produktivitas mencapai hingga 70 ton per hektare pada sistem RAS super-intensif di Sumbawa, hingga 60 ton per hektare di Bangka, dan hingga 30 ton per hektare di Bali.
Perusahaan juga menyatakan telah menjangkau lebih dari 25 provinsi dan tiga negara.
Meski demikian, angka produktivitas tersebut tidak dijadikan sebagai jaminan hasil bagi calon mitra. FisTx menekankan bahwa performa budidaya dapat berbeda berdasarkan kondisi lahan, sistem yang digunakan, kualitas air, manajemen, serta karakteristik setiap siklus.
Karena itu, proses kerja sama diawali dengan survei kelayakan sebelum pembahasan mengenai skema dan pembagian hasil.
Bachtiar menegaskan bahwa pendekatan tersebut diperlukan agar keputusan investasi tidak hanya didasarkan pada proyeksi keuntungan.
“Bagi kami, kondisi lokasi harus menjadi dasar utama. Kami akan melakukan penilaian terlebih dahulu dan menyampaikan hasilnya secara terbuka. Jika sebuah lahan belum memenuhi persyaratan untuk dikembangkan, hal tersebut juga akan kami sampaikan kepada calon mitra,” ujarnya.
Melalui model KSO tersebut, FisTx Indonesia berupaya membangun pola kolaborasi yang mempertemukan modal, aset lahan, teknologi, dan kemampuan operasional. Pendekatan tersebut diharapkan dapat membuka lebih banyak peluang pengembangan tambak sekaligus memberikan dasar pengelolaan yang lebih terstruktur bagi investor maupun pemilik lahan.
Press release ini juga sudah tayang di VRITIMES


