Petani Kopi Lahat Menanti Harapan di Tengah Anjloknya Harga: “Kami Simpan, Menunggu Harga Naik Lagi”
QueenNews.id – Harapan para petani kopi di Kabupaten Lahat masih menggantung di antara bayang-bayang harga jual yang terus menurun. Setelah sempat menikmati lonjakan harga hingga Rp 80.000 per kilogram pada tahun 2024 lalu, kini mereka harus menghadapi kenyataan pahit: harga biji kopi kembali turun drastis.
Per awal September 2025, harga biji kopi hanya berada di kisaran Rp 58.000 per kilogram, padahal di awal Agustus masih stabil di angka Rp 65.000. Kondisi ini membuat sebagian besar petani memilih untuk menyimpan hasil panen mereka, berharap harga kembali membaik.
“Sudah empat hari terakhir harga terus turun. Tapi kami petani sudah terbiasa dengan kondisi seperti ini,” ujar Amat Sijunjung, petani sekaligus pelaku usaha kopi bubuk asal Desa Sumber Karya, Kecamatan Gumay Ulu, Senin (8/9/2025).
Strategi Bertahan: Simpan Biji Kopi, Tunggu Waktu Terbaik
Amat mengungkapkan, saat ini banyak petani memilih menahan penjualan kopi mereka. Strategi ini dilakukan sembari berharap harga kembali menyentuh angka Rp 70.000 – Rp 80.000 per kilogram seperti tahun lalu.
Menurutnya, naik turunnya harga kopi tidak lepas dari pengaruh harga nasional dan para pedagang besar (tokeh). Pola fluktuasi harga pun mulai bisa diprediksi. Saat momen hari besar dan tahun ajaran baru, harga cenderung turun. Sebaliknya, di awal tahun ketika stok petani dan gudang menipis—sekitar Januari–Februari—harga kembali naik.
“Kalau stok kopi kami masih disimpan. Menunggu waktu yang tepat, siapa tahu harga kembali bagus,” tambah Amat dengan nada penuh harap.
Belum Ada Standar Harga Resmi untuk Kopi
Sayangnya, hingga saat ini tidak ada standar acuan resmi harga kopi dari pemerintah, baik provinsi maupun pusat. Kabid Pengelolaan dan Pemasaran Hasil Dinas Perkebunan Kabupaten Lahat, Lusepa, mengungkapkan bahwa kopi belum memiliki harga referensi seperti komoditas sawit dan karet yang sudah ditentukan oleh pemerintah.
“Untuk kopi, belum ada acuan resmi. Kami hanya bisa melakukan pemantauan harga di lapangan,” kata Lusepa saat ditemui, Senin (23/6/2025).
Sementara itu, Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Lahat, Vivi Angraeni SSTP MSi, menambahkan bahwa saat ini harga kopi di Lahat masih mengacu pada harga yang ditetapkan oleh para pedagang besar di Provinsi Lampung.
Belum ada infrastruktur atau gudang skala besar di Sumsel yang dapat digunakan untuk menstabilkan harga dan menjadi acuan pasar.
Bupati Lahat Siapkan Solusi: Kopi Akan Ditampung oleh Prusda
Menanggapi kondisi tersebut, Bupati Lahat Bursah Zarnubi dikabarkan tengah mempersiapkan langkah strategis. Rencana jangka menengahnya adalah menjadikan Perusahaan Daerah (Prusda) Lahat sebagai badan penampung hasil kopi petani.
Dengan demikian, standar harga kopi akan ditetapkan oleh lembaga resmi daerah, bukan lagi dikendalikan tengkulak.
“Rencana ini sangat menguntungkan petani. Jika terealisasi, para tengkulak tidak bisa lagi memainkan harga yang selama ini sering merugikan petani kopi kita,” ujar Vivi Angraeni.
Harapan yang Masih Tersimpan di Karung Kopi
Di balik tumpukan karung kopi yang tersimpan rapi di rumah-rumah petani Lahat, tersimpan pula harapan besar: harga yang adil, perlindungan dari permainan tengkulak, dan masa depan yang lebih cerah bagi komoditas kopi lokal.
Namun hingga sistem pemasaran dan pengelolaan harga benar-benar dibenahi, petani seperti Amat Sijunjung dan ribuan lainnya di Lahat masih harus bersabar dan bertahan, dengan biji kopi yang terus menunggu waktu panen terbaik bukan dari pohon, tapi dari harga yang memihak mereka.


