BISNIS DAN DTRAVEL

Kunjungan Modi ke Jakarta dan Babak Baru Kekuatan Strategis Asia

Pasang Iklan di QueenNews.id

QueenNews.id – Hubungan India dan Indonesia tengah memasuki fase yang semakin menentukan. Setelah melalui perjalanan panjang yang sempat diwarnai kedekatan, jarak politik, hingga kerja sama yang belum sepenuhnya mencerminkan potensi kedua negara, Jakarta dan New Delhi kini memiliki peluang besar untuk memperkuat posisi mereka sebagai dua kekuatan penting di kawasan Asia.

Perubahan arah hubungan tersebut semakin terlihat sejak Indonesia dan India meningkatkan status kemitraan menjadi Comprehensive Strategic Partnership pada 2018. Sejak saat itu, berbagai agenda bilateral terus dikembangkan untuk memperluas kerja sama, tidak hanya pada bidang politik dan ekonomi, tetapi juga pertahanan, keamanan maritim, teknologi, energi, serta konektivitas.

Momentum tersebut mendapat dorongan baru ketika Presiden Prabowo Subianto melakukan kunjungan ke India pada Januari 2025. Pertemuan itu dinilai membuka ruang lebih luas bagi kedua negara untuk membawa hubungan bilateral ke tingkat yang lebih konkret.

Kini, perhatian tertuju pada kunjungan Perdana Menteri India Narendra Modi ke Jakarta. Agenda tersebut menjadi kesempatan penting untuk mengukur sejauh mana kemajuan hubungan India dan Indonesia selama sekitar 18 bulan terakhir, sekaligus menentukan arah kerja sama pada tahun-tahun mendatang.

Indonesia menjadi bagian dari rangkaian perjalanan Modi ke tiga negara, bersama Australia dan Selandia Baru. Lawatan tersebut berlangsung di tengah perubahan geopolitik yang membuat kawasan Indo-Pasifik semakin penting dalam strategi diplomasi India.

Indo-Pasifik Menjadi Panggung Utama Diplomasi India

Kunjungan Modi berlangsung dalam periode diplomasi regional yang cukup intensif. Sebelumnya, Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi juga melakukan lawatan ke India.

Rangkaian pertemuan tersebut memperlihatkan meningkatnya perhatian New Delhi terhadap hubungan dengan negara-negara demokrasi utama di Indo-Pasifik. Perkembangan ini menjadi semakin penting ketika muncul pertanyaan mengenai konsistensi keterlibatan Amerika Serikat di kawasan serta masa depan forum kerja sama seperti Quadrilateral Security Dialogue atau Quad.

Dalam situasi tersebut, pertemuan India dengan Indonesia, Jepang, Australia, dan Selandia Baru tidak dapat dilihat semata-mata sebagai agenda bilateral. Dialog dengan negara-negara tersebut juga berpotensi memengaruhi konfigurasi politik dan keamanan Asia dalam jangka panjang.

Menurut analisis Rajiv Bhatia, hubungan India dan Indonesia saat ini berada dalam kondisi yang relatif positif. Tidak ada sengketa besar yang menjadi hambatan utama bagi kedua negara untuk memperluas kemitraan.

Hubungan personal antara Modi dan Prabowo juga dinilai dapat menjadi salah satu faktor pendukung. Presiden Prabowo disebut memberikan perhatian terhadap berbagai kebijakan pembangunan yang dijalankan India, sementara kepemimpinan Indonesia dipandang memiliki pendekatan yang pragmatis dan seimbang dalam membaca dinamika kekuatan besar, termasuk posisi Tiongkok di Indo-Pasifik.

Kedekatan di tingkat pemimpin memberikan peluang bagi kementerian, dunia usaha, akademisi, dan pemangku kepentingan lainnya untuk mempercepat pelaksanaan berbagai agenda yang sebelumnya telah disepakati.

Pertemuan Tingkat Menteri Membuka Peluang Kesepakatan Baru

Fondasi bagi penguatan hubungan tersebut telah terlihat dalam Pertemuan Komisi Bersama India–Indonesia ke-8 yang berlangsung pada 7 Juni.

Pertemuan itu dipimpin bersama oleh Menteri Luar Negeri India S. Jaishankar dan Menteri Luar Negeri Indonesia Sugiono. Kedua pihak melakukan evaluasi terhadap perkembangan hubungan bilateral sekaligus mengidentifikasi sektor-sektor baru yang dapat dikembangkan.

Cakupan pembahasan tergolong luas. Kerja sama yang dibicarakan meliputi politik, keamanan, pertahanan, kemaritiman, perdagangan, investasi, farmasi, kesehatan, ekonomi digital, energi, konektivitas, antariksa, pendidikan, pelayanan konsuler, kebudayaan, hingga hubungan antarmasyarakat.

Hasil pembahasan tersebut membuka kemungkinan munculnya sejumlah nota kesepahaman baru selama kunjungan Modi. Selain kesepakatan formal, Jakarta dan New Delhi juga diharapkan memiliki peta jalan yang lebih terarah untuk mendorong implementasi berbagai program bersama.

Namun, arti strategis pertemuan kedua pemimpin diperkirakan tidak berhenti pada penandatanganan dokumen.

Berita lainnya :  Holding Perkebunan Nusantara Perkuat Peran PTPN IV PalmCo dalam Relokasi Warga Batangtoru

Indonesia dan India Menghadapi Perubahan Tatanan Global

Kedua negara kini berhadapan dengan lingkungan internasional yang semakin kompleks.

Perang di Ukraina, konflik di Timur Tengah, perubahan hubungan kekuatan besar, hingga kemungkinan munculnya dinamika baru antara Amerika Serikat dan Tiongkok turut memengaruhi stabilitas kawasan.

Bagi India dan Indonesia, setiap pergeseran dalam hubungan Washington dan Beijing akan membawa konsekuensi besar. Kedua negara sama-sama memiliki kepentingan terhadap Indo-Pasifik yang terbuka, stabil, aman, dan mampu menopang pertumbuhan ekonomi.

Kawasan tersebut juga menjadi ruang strategis bagi Jepang, Australia, Filipina, dan Korea Selatan. Negara-negara ini memiliki kepentingan yang sama dalam mencegah konflik dan menjaga jalur perdagangan yang menjadi urat nadi perekonomian Asia.

Ketika sejumlah forum kawasan menghadapi tantangan internal dan perhatian negara besar dapat berubah sesuai kepentingan domestik masing-masing, kebutuhan terhadap mekanisme konsultasi baru menjadi semakin relevan.

Indonesia dan India berpeluang memainkan peran lebih besar dalam membangun komunikasi politik yang lebih inklusif di antara negara-negara utama kawasan.

BrahMos Bisa Menjadi Tonggak Kerja Sama Pertahanan

Salah satu isu yang paling banyak mendapat perhatian dalam hubungan India dan Indonesia adalah potensi kerja sama pertahanan.

Harapan kembali muncul terkait rencana Indonesia memperoleh rudal jelajah supersonik BrahMos. Menteri Pertahanan India Rajesh Kumar Singh sebelumnya menyampaikan dalam forum Shangri-La Dialogue bahwa proses negosiasi terkait transaksi tersebut telah mendekati tahap akhir.

Apabila kesepakatan berhasil diwujudkan, dampaknya akan melampaui transaksi pembelian peralatan pertahanan.

Kerja sama tersebut dapat menjadi tonggak baru bagi hubungan strategis Jakarta dan New Delhi. Ke depan, peluang kolaborasi dapat berkembang menuju kerja sama industri pertahanan, pengembangan teknologi, pelatihan, dan penguatan kapasitas keamanan maritim.

Bagi dua negara besar yang berada di jalur strategis Samudra Hindia dan Indo-Pasifik, peningkatan hubungan pertahanan memiliki arti penting bagi stabilitas kawasan.

Pasang Iklan di QueenNews.id

Perdagangan Bilateral Masih Memiliki Ruang Besar untuk Tumbuh

Bidang ekonomi menjadi tantangan sekaligus peluang berikutnya.

Target meningkatkan perdagangan bilateral dari sekitar 30 miliar dolar AS menjadi 50 miliar dolar AS belum berhasil dicapai sesuai jadwal awal. Meski demikian, angka tersebut tetap menjadi sasaran penting bagi kedua pemerintahan.

India dan Indonesia memiliki skala pasar, sumber daya, serta kebutuhan ekonomi yang dapat saling melengkapi. Tantangan terbesar adalah mendorong perdagangan yang lebih produktif sekaligus meningkatkan arus investasi jangka panjang.

Mineral kritis diperkirakan menjadi salah satu bidang yang akan memperoleh perhatian lebih besar. Kebutuhan terhadap bahan baku strategis terus meningkat seiring berkembangnya industri energi bersih, kendaraan listrik, teknologi digital, dan manufaktur berteknologi tinggi.

Selain itu, perdagangan digital juga membuka peluang baru bagi perusahaan dan pelaku ekonomi dari kedua negara.

Pernyataan bersama yang dihasilkan setelah pertemuan para pemimpin akan menjadi salah satu indikator penting untuk melihat bagaimana Jakarta dan New Delhi merancang strategi dalam mencapai target ekonomi tersebut.

BRICS, G20, dan IORA Memperluas Ruang Kolaborasi

Diplomasi global kini semakin bergerak menuju pola plurilateral. Negara-negara tidak lagi hanya bergantung pada satu organisasi atau blok, tetapi aktif membangun kerja sama melalui berbagai forum sesuai kepentingan masing-masing.

Dalam konteks ini, India dan Indonesia memiliki banyak ruang untuk memperkuat koordinasi.

Kedua negara sama-sama terlibat dalam G20, BRICS, dan Indian Ocean Rim Association atau IORA. Keanggotaan Indonesia di BRICS membuka babak baru dalam hubungan dengan India yang merupakan salah satu negara pendiri kelompok tersebut.

Posisi baru Indonesia dapat memperluas koordinasi dalam isu ekonomi global, reformasi tata kelola internasional, perdagangan, pembangunan, dan kepentingan negara-negara berkembang.

Berita lainnya :  Belajar Memahami Indonesia Melalui Nilai-Nilai Kehidupan Sehari-hari

India juga berkepentingan memperoleh dukungan Indonesia dalam agenda BRICS berikutnya di New Delhi.

Di tingkat regional, New Delhi diperkirakan akan kembali menegaskan pentingnya hubungannya dengan ASEAN. Dalam hal ini, Indonesia memiliki posisi strategis mengingat peran sentralnya dalam organisasi kawasan tersebut.

Myanmar Tetap Menjadi Isu Sensitif

Perkembangan politik di Myanmar juga kemungkinan menjadi salah satu topik pembicaraan.

Indonesia dan India memiliki kepentingan terhadap stabilitas negara tersebut, tetapi pendekatan keduanya tidak sepenuhnya sama.

ASEAN masih menempatkan Konsensus Lima Poin sebagai kerangka utama untuk menangani krisis Myanmar. Sementara itu, India menunjukkan pendekatan yang lebih adaptif terhadap perkembangan politik terkini.

Perbedaan tersebut terlihat dari keterlibatan New Delhi dengan pemerintahan Myanmar, termasuk kunjungan resmi Min Aung Hlaing ke India.

Pertemuan Modi dan Prabowo dapat menjadi kesempatan untuk bertukar pandangan mengenai cara mencegah konflik berkepanjangan sekaligus mendorong stabilitas di salah satu wilayah paling sensitif di Asia Tenggara.

Great Nicobar Project Membuka Dimensi Maritim Baru

Hubungan India dan Indonesia juga memiliki dimensi geografis yang jarang mendapat perhatian luas.

Pengumuman India mengenai Great Nicobar Project pada 1 Mei menghadirkan peluang baru bagi hubungan kedua negara. Proyek tersebut dirancang untuk mengembangkan Kepulauan Andaman dan Nicobar sebagai pusat ekonomi sekaligus kawasan maritim strategis.

Lokasinya yang berdekatan dengan wilayah Indonesia membuat proyek itu memiliki relevansi langsung bagi Jakarta.

Pengembangan konektivitas, perdagangan, pelabuhan, dan aktivitas ekonomi maritim dapat menciptakan ruang baru bagi kolaborasi kedua negara.

Dalam konteks lebih luas, India dan Indonesia juga memiliki kepentingan untuk memperkuat hubungan antara Asia Selatan dan Asia Tenggara.

Salah satu jalurnya adalah melalui pengembangan Bay of Bengal Initiative for Multi-Sectoral Technical and Economic Cooperation atau BIMSTEC.

Indonesia berpotensi mengambil peran lebih besar dalam mendorong lahirnya kawasan ekonomi Teluk Benggala yang semakin terhubung. Integrasi tersebut dapat meningkatkan perdagangan, investasi, konektivitas, dan pertukaran antarmasyarakat.

Tantangan Utama Kini Adalah Implementasi

Berbagai gagasan mengenai masa depan hubungan India dan Indonesia sebenarnya telah lama berkembang.

Sejumlah isu strategis tersebut juga menjadi topik dalam dua putaran Dialog Track 1.5 antara Gateway House: Indian Council on Global Relations dari Mumbai dan Center for Strategic and International Studies (CSIS) Indonesia.

Dialog digelar di Mumbai dan Jakarta pada September 2024 serta September 2025.

Sejumlah rekomendasi yang lahir dari forum tersebut bahkan memperoleh pengakuan resmi dan tercantum dalam pernyataan bersama kedua negara pada Januari 2025.

Karena itu, tantangan terbesar saat ini bukan lagi kekurangan gagasan.

Jakarta dan New Delhi telah memiliki banyak pilihan kebijakan yang bersifat visioner sekaligus realistis. Pekerjaan berikutnya adalah memastikan seluruh gagasan tersebut diterjemahkan menjadi program konkret, memiliki target jelas, serta memberikan manfaat nyata bagi kedua negara.

Kunjungan Narendra Modi ke Jakarta pada akhirnya memiliki arti jauh lebih besar daripada sekadar pertemuan diplomatik tingkat tinggi.

Momentum tersebut dapat menjadi kesempatan bagi India dan Indonesia untuk mempercepat kerja sama bilateral, membangun hubungan yang lebih kuat antara Asia Selatan dan Asia Tenggara, serta ikut membentuk keseimbangan baru di Indo-Pasifik.

Di tengah perubahan cepat tatanan internasional, keputusan yang diambil Jakarta dan New Delhi berpotensi memengaruhi arah kawasan dalam beberapa tahun mendatang.

Bagi dua negara demokrasi besar dengan populasi, kekuatan ekonomi, dan posisi geografis yang strategis, hubungan yang semakin erat bukan hanya penting bagi kepentingan nasional masing-masing. Kemitraan tersebut juga dapat ikut menentukan wajah masa depan Asia.

Press Release ini juga sudah tayang di VRITIMES

Pasang Iklan di QueenNews.id

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

BISNIS DAN DTRAVEL

Merayakan Tiga Tahun Inovasi Akar Rumput: Accelerator Lab UNDP Indonesia Dorong Pembangunan Perkotaan Berkelanjutan

  • Kamis, 13 Februari 2025
Seiring laju urbanisasi dan tantangan iklim, peran masyarakat menjadi semakin penting sebagai pendorong perubahan. Sejak 2021, Accelerator Lab UNDP Indonesia
BISNIS DAN DTRAVEL

Jasavalas.com Resmi Diluncurkan, Permudah Pengiriman Uang ke China dengan Biaya Rendah

  • Selasa, 18 Februari 2025
QueenNews.id – Jasa Valas, perusahaan baru di bidang remitansi, dengan bangga meluncurkan situs resminya, Jasavalas.com, pada Februari 2025. Platform ini