Benarkah Hubungan Bisa Meredakan Migrain? Simak Fakta Medis yang Perlu Diketahui
QUEENNEWS.ID – Migrain merupakan salah satu jenis sakit kepala yang kerap mengganggu aktivitas sehari-hari. Rasa nyeri yang muncul di salah satu sisi kepala ini bahkan dapat disertai mual, sensitivitas terhadap cahaya, hingga gangguan konsentrasi.
Di tengah berbagai metode pengobatan yang tersedia, muncul anggapan bahwa hubungan intim dapat membantu meredakan migrain secara alami. Namun di sisi lain, ada pula yang mengaitkan aktivitas seksual dengan munculnya sakit kepala. Lantas, bagaimana fakta medis sebenarnya?
Para ahli menjelaskan bahwa hubungan intim memang memiliki keterkaitan dengan kondisi psikologis dan fisiologis tubuh yang dapat memengaruhi muncul atau meredanya migrain. Namun efeknya tidak selalu sama pada setiap orang.
Hubungan Intim dan Pelepasan Hormon Bahagia
Menurut sejumlah penelitian dan pendapat para ahli kesehatan, aktivitas intim yang berlangsung nyaman dan memberikan kepuasan dapat memicu pelepasan berbagai hormon yang berperan dalam menciptakan rasa nyaman pada tubuh.
Salah satu zat yang dihasilkan adalah beta endorfin, yaitu senyawa alami yang dikenal memiliki efek menyerupai pereda nyeri. Senyawa ini bekerja pada pusat pengendali rasa sakit di sistem saraf sehingga dapat membantu mengurangi persepsi nyeri yang dirasakan seseorang.
Selain membantu menekan rasa sakit, pelepasan endorfin juga berkontribusi terhadap peningkatan suasana hati dan rasa rileks. Inilah yang membuat sebagian orang merasakan gejala migrain berkurang setelah melakukan aktivitas intim bersama pasangan.
Stres dan Migrain Memiliki Hubungan Erat
Dari sisi psikologis, stres merupakan salah satu faktor pemicu migrain yang paling umum. Ketika seseorang mengalami tekanan emosional berkepanjangan, risiko munculnya serangan migrain dapat meningkat.
Aktivitas yang memberikan rasa nyaman dan kedekatan emosional, termasuk hubungan intim yang sehat, dapat membantu menurunkan tingkat stres. Saat tubuh menjadi lebih rileks, peluang munculnya sakit kepala akibat ketegangan pun dapat berkurang.
Namun para ahli menegaskan bahwa manfaat tersebut biasanya lebih mungkin dirasakan ketika aktivitas intim berlangsung secara nyaman, tanpa tekanan, dan memberikan kepuasan bagi kedua pasangan.
Tidak Selalu Menjadi Solusi untuk Semua Orang
Meskipun ada yang merasakan manfaatnya, hubungan intim bukanlah metode pengobatan utama untuk migrain. Bahkan pada sebagian orang, aktivitas seksual justru dapat memicu munculnya sakit kepala.
Dalam dunia medis dikenal kondisi yang disebut coital cephalgia atau sexual headache, yaitu sakit kepala yang muncul selama atau setelah aktivitas seksual berlangsung.
Kondisi ini dapat terjadi akibat kontraksi otot yang berlebihan, terutama di area leher dan kepala. Ketegangan otot tersebut dapat memicu nyeri yang menyerupai migrain.
Karena itu, seseorang yang sedang mengalami kelelahan fisik, ketegangan otot, atau kurang melakukan peregangan berisiko mengalami sakit kepala setelah aktivitas intim.
Selain faktor fisik, tidak semua penderita migrain memiliki keinginan untuk melakukan aktivitas seksual saat serangan muncul. Banyak orang justru merasa lemas, tidak berenergi, dan lebih memilih beristirahat hingga gejala mereda.
Cara Meredakan Migrain Secara Alami
Selain penanganan medis, beberapa langkah sederhana dapat membantu mengurangi gejala migrain, di antaranya:
- Beristirahat di ruangan yang tenang dan minim cahaya.
- Mengompres area dahi atau belakang leher dengan kompres dingin.
- Menggunakan kompres hangat setelah nyeri mulai berkurang untuk membantu merilekskan otot.
- Mengonsumsi jahe yang diketahui dapat membantu mengurangi mual akibat migrain.
- Mengonsumsi minuman berkafein dalam jumlah wajar pada awal serangan migrain.
- Berkonsultasi dengan dokter apabila migrain terjadi berulang atau disertai gejala berat seperti muntah terus-menerus, kelemahan anggota tubuh, kejang, atau penurunan kesadaran.
Pada akhirnya, hubungan intim memang dapat membantu sebagian orang meredakan migrain melalui efek relaksasi dan pelepasan hormon alami tubuh. Namun kondisi tersebut tidak berlaku untuk semua orang. Karena itu, penting untuk memahami respons tubuh masing-masing dan tetap mengutamakan konsultasi medis apabila keluhan migrain sering terjadi atau semakin berat. (bbs)


