Perkuat Perlindungan Konsumen, BPOM Surabaya Bekali Ratusan Pramuka dengan Ilmu Keamanan Produk
Upaya memperkuat perlindungan masyarakat terhadap risiko peredaran obat, kosmetik, dan pangan yang tidak memenuhi standar terus dilakukan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Melalui Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) di Surabaya, strategi pengawasan kini tidak hanya berfokus pada pemantauan produk di lapangan, tetapi juga melibatkan masyarakat, khususnya generasi muda, sebagai mitra edukasi keamanan obat dan makanan.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui kegiatan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Satuan Karya Pengawas Obat dan Makanan (SAKA POM) Tahun 2026. Dalam kegiatan ini, sebanyak 100 anggota Pramuka diberikan pembekalan pengetahuan dan keterampilan agar mampu menjadi pelopor keamanan obat dan makanan di lingkungan masing-masing.
Program SAKA POM menjadi bagian dari langkah strategis BPOM dalam membangun sistem pengawasan berbasis partisipasi masyarakat. Melalui pendekatan edukatif, BPOM berharap informasi mengenai pemilihan produk yang aman, bermutu, dan sesuai ketentuan dapat menjangkau lebih banyak lapisan masyarakat, mulai dari lingkungan sekolah, perguruan tinggi, keluarga, hingga komunitas.
Diklat SAKA POM Tahun 2026 secara resmi dibuka oleh Ketua Majelis Pembimbing Daerah (Mabida) SAKA POM Jawa Timur sekaligus Kepala BBPOM di Surabaya, Yudi Noviandi, M.Sc., Tech., Apt. Kegiatan tersebut turut didukung oleh berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, Gerakan Pramuka, Ikatan Apoteker Indonesia (IAI), serta para pimpinan Satuan Karya.
Menurut Yudi Noviandi, pengawasan obat dan makanan membutuhkan keterlibatan banyak pihak agar hasilnya lebih maksimal. BPOM tidak dapat bekerja sendiri dalam memastikan masyarakat terlindungi dari produk yang berisiko.
“Peran masyarakat menjadi bagian penting dalam memperkuat pengawasan obat dan makanan. Melalui SAKA POM, kami ingin membentuk kader muda yang tidak hanya memahami keamanan produk, tetapi juga mampu menyampaikan edukasi secara tepat kepada lingkungan sekitarnya,” ujar Yudi.
Ia menambahkan, para peserta diberikan berbagai bekal agar mampu mengenali produk yang memenuhi ketentuan, memahami informasi keamanan, serta menjadi penghubung antara BPOM dan masyarakat. Kehadiran kader muda ini diharapkan menjadi investasi jangka panjang dalam memperluas jangkauan edukasi kesehatan publik.
Peserta Diklat SAKA POM 2026 berasal dari Pramuka Penegak tingkat SMA/sederajat serta Pramuka Pandega dari sejumlah perguruan tinggi di Kota Surabaya. Selama pelatihan berlangsung, mereka mendapatkan materi melalui tiga krida utama SAKA POM, yakni Krida Pengujian Sederhana Obat dan Makanan, Krida Pemantauan Obat dan Makanan, serta Krida Informasi Obat dan Makanan.
Tidak hanya menerima teori, peserta juga mengikuti pembelajaran berbasis praktik. Mereka diperkenalkan dengan berbagai layanan digital BPOM dan melakukan pengujian sederhana untuk mengenali kemungkinan kandungan bahan berbahaya pada pangan. Metode pembelajaran tersebut dirancang agar para kader memiliki pengalaman nyata ketika memberikan edukasi kepada masyarakat.
Melalui pelaksanaan Diklat SAKA POM Tahun 2026, BBPOM Surabaya menegaskan komitmennya dalam membangun budaya sadar keamanan obat dan makanan di tengah masyarakat. Seratus kader muda yang telah dibekali kemampuan tersebut diharapkan mampu menjadi penggerak informasi positif sekaligus perpanjangan tangan BPOM dalam mengajak masyarakat lebih cerdas memilih produk.
Dengan semakin luasnya keterlibatan masyarakat dalam pengawasan, upaya menciptakan lingkungan yang aman dari produk obat, kosmetik, dan pangan yang tidak memenuhi ketentuan dapat berjalan secara berkelanjutan.
Tentang BPOM


