Lahat Menuju Warisan Dunia UNESCO: Negeri Seribu Megalitik Siap Mendunia
QueenNews.id – Kabupaten Lahat di Sumatera Selatan kembali menegaskan identitasnya sebagai pusat kebudayaan megalitik terbesar di Indonesia. Setelah meraih Rekor MURI sebagai kabupaten dengan situs megalitik terbanyak pada tahun 2012, kini Pemerintah Kabupaten Lahat tengah mengupayakan pengakuan internasional dari UNESCO sebagai Warisan Dunia.
Upaya ini bukan hanya tentang pengakuan, tetapi juga wujud nyata pelestarian sejarah, warisan budaya, dan jati diri masyarakat Lahat. Tak heran jika kabupaten ini mulai dikenal luas dengan sebutan “Negeri Seribu Megalitik.”
Wakil Bupati Lahat: Ini Warisan Leluhur yang Harus Dijaga
Wakil Bupati Lahat, Widia Ningsih, menyampaikan bahwa situs-situs megalitik yang tersebar di berbagai desa adalah peninggalan peradaban yang sangat bernilai.
“Situs megalitik adalah bukti sejarah, pengetahuan, dan identitas yang diwariskan oleh leluhur kita. Karena itu, mari bersama-sama mendukung pelestarian dan pengembangan situs megalitik ini,” ujar Widia dalam pertemuan bersama akademisi dan tokoh budaya, Kamis (11/9/2025).
Ia juga menegaskan pentingnya hasil nyata dari diskusi lintas sektor, seperti pakar arkeologi, budayawan, pendidik, hingga pemerintah daerah.
“Pertemuan ini harus menghasilkan langkah konkret. Target kami adalah menjadikan megalitik Lahat sebagai destinasi wisata budaya unggulan, dan yang terpenting, terdaftar sebagai Warisan Dunia UNESCO,” tambahnya.
Arkeolog UGM: Lahat Layak Mendapat Pengakuan Dunia
Dukungan juga datang dari kalangan akademisi. Dr. Daud Aris Tanudirjo, MA, arkeolog dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta yang juga dikenal sebagai Pakar Warisan Dunia, menilai bahwa upaya Pemkab Lahat patut diapresiasi.
“Kolaborasi antara pemerintah daerah, akademisi, dan lembaga kebudayaan terlihat sangat kuat. Ini modal penting dalam upaya menuju pengakuan UNESCO,” ujarnya.
Namun demikian, Dr. Daud menekankan bahwa masyarakat lokal adalah kunci utama dalam menjaga kelestarian dan memperkenalkan situs megalitik kepada dunia.
“Masyarakat Lahat harus menjadi garda terdepan. Mereka adalah penjaga sekaligus pencerita warisan leluhur ini. Saya yakin, jika semua elemen terus bersatu, kekayaan budaya ini akan diakui dunia,” tegasnya.
Lahat, Negeri Seribu Megalitik yang Tersembunyi
Kabupaten Lahat dikenal memiliki lebih dari 1.000 situs megalitik yang tersebar di berbagai desa dan lembah, menjadikannya kawasan dengan konsentrasi peninggalan megalitik terbanyak di Indonesia. Beberapa situs bahkan diyakini berusia ribuan tahun dan menjadi bagian dari peradaban prasejarah yang tinggi.
Situs-situs megalitik tersebut berupa arca, dolmen, batu datar, menhir, sarkofagus, hingga batu berelief yang menggambarkan aktivitas sosial dan budaya masyarakat zaman dahulu. Keunikan dan kelangkaannya menjadikan Lahat sebagai salah satu kawasan arkeologi terpenting di Asia Tenggara.
Menuju UNESCO: Apa Saja yang Perlu Dilakukan?
Untuk meraih status World Heritage Site (Situs Warisan Dunia) dari UNESCO, ada beberapa tahapan yang harus dilalui, antara lain:
Pendataan dan dokumentasi menyeluruh terhadap situs megalitik
Penetapan kawasan konservasi budaya
Pelibatan aktif masyarakat lokal dalam pelestarian
Pengembangan pariwisata berkelanjutan berbasis budaya
Penyusunan dokumen nominasi sesuai standar UNESCO
Upaya ini juga sejalan dengan strategi pengembangan pariwisata berkelanjutan dan edukatif, menjadikan Lahat sebagai tujuan wisata budaya kelas dunia tanpa mengorbankan nilai-nilai tradisional yang melekat pada situs tersebut.
Harapan untuk Generasi Mendatang
Pengakuan dari UNESCO bukan sekadar prestise, tapi juga langkah besar dalam menjaga identitas, merawat warisan leluhur, dan membangun kebanggaan lokal.
Lebih jauh, ini akan memberikan manfaat sosial, ekonomi, dan pendidikan bagi masyarakat Lahat dan generasi mendatang.
Kabupaten Lahat kini berada di jalur yang tepat untuk menjadi ikon budaya megalitik dunia. Dengan kolaborasi pemerintah, akademisi, budayawan, dan masyarakat, impian menjadikan “Negeri Seribu Megalitik” sebagai Warisan Dunia UNESCO bukanlah sekadar harapan, melainkan tujuan yang bisa dicapai bersama.


