Hati-hati! Gejala Kebocoran Urine saat Batuk Atau Tertawa Bisa Jadi Tanda Penyakit Serius
QueenNews.id – Kebocoran urine saat batuk, tertawa, atau melompat sering dianggap hal sepele atau bahkan “normal” setelah melahirkan atau bertambah usia.
Padahal, kondisi tersebut bisa menjadi tanda gangguan serius pada otot dasar panggul yang disebut pelvic floor dysfunction (PFD).
Hal itu disampaikan dokter spesialis obstetri dan ginekologi dr. Ni Komang Yeni Dhana Sari, Sp.OG., FAUCICOG., MM., MARS dalam Bamed Seminar Media bertajuk Comprehensive Aesthetic and Wellness: Integrated and Holistic Approach to Better Wellbeing di Jakarta, Kamis.
“Urinenya jadi sering bocor saat batuk, loncat, atau tertawa. Tidak bisa menahan buang angin, atau bahkan sulit menahan buang air besar,” ujar Yeni.
Gangguan yang Sering Dianggap Wajar
Menurut Yeni, banyak perempuan tidak menyadari bahwa gejala-gejala tersebut merupakan bagian dari disfungsi dasar panggul. Akibatnya, kondisi ini kerap tidak terdiagnosis dan dibiarkan tanpa penanganan.
Padahal, otot dasar panggul memiliki peran penting dalam menopang organ di area panggul serta mengatur fungsi berkemih, buang air besar, hingga fungsi seksual.
Ketika otot ini melemah, berbagai gangguan dapat muncul dan berdampak pada aktivitas sehari-hari.
Bukan Hanya Soal Usia dan Melahirkan
Yeni menjelaskan, penurunan fungsi otot panggul dapat dipicu oleh banyak faktor. Di antaranya kehamilan, persalinan normal, obesitas, proses penuaan yang berkaitan dengan penurunan hormon estrogen, hingga riwayat operasi di area panggul.
Kondisi ini tidak hanya dialami oleh perempuan lanjut usia, tetapi juga dapat terjadi pada usia produktif tergantung faktor risiko yang dimiliki.
Dampak Lebih Luas dari Sekadar “Ngompol”
Disfungsi dasar panggul tidak hanya menyebabkan inkontinensia urine, tetapi juga dapat mengganggu kontrol buang air besar dan fungsi seksual.
Menurut Yeni, dampaknya bahkan meluas hingga ke aspek psikologis dan sosial, seperti rasa malu, menurunnya kepercayaan diri, hingga terganggunya kualitas hubungan sosial.
“Ini bukan sekadar masalah estetika, tapi sudah menjadi isu kesehatan global yang memengaruhi kualitas hidup perempuan sehari-hari,” tegasnya.
Masih Banyak Kasus Tidak Terdeteksi
Salah satu tantangan terbesar, kata Yeni, adalah rendahnya kesadaran masyarakat untuk melaporkan keluhan tersebut. Banyak perempuan menganggapnya sebagai bagian normal dari proses penuaan atau dampak setelah melahirkan.
Akibatnya, kasus disfungsi dasar panggul sering tidak tertangani dengan baik.
“Banyak yang malu melapor. Padahal masalah ini bisa diatasi dengan pendekatan medis yang tepat dan multidisiplin,” ujarnya.
Imbauan Jangan Diabaikan, Segera Periksa
Yeni mengimbau perempuan yang mengalami gejala seperti kebocoran urine saat batuk, tertawa, atau aktivitas fisik lainnya untuk tidak menunda pemeriksaan ke tenaga kesehatan.
Diagnosis dini dinilai penting agar penanganan dapat dilakukan lebih efektif dan mencegah kondisi semakin memburuk.
Dengan penanganan yang tepat, disfungsi dasar panggul dapat diatasi sehingga kualitas hidup pasien dapat kembali meningkat.


