QUEEN INSPIRA SUMSEL MAJU

Harga Karet Anjlok Rp3.000 per Kg Buat Petani OKU Terpukul, Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Ilustrasi petani sedang berada di kebun karet.
Pasang Iklan di QueenNews.id

QueenNews.id – Kabar kurang menggembirakan datang bagi ribuan petani karet di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan. Setelah sempat menikmati harga yang terus merangkak naik dalam beberapa bulan terakhir, kini harga getah karet mendadak terkoreksi hingga Rp3.000 per kilogram.

Kondisi ini membuat pendapatan petani ikut menyusut, bahkan di tengah hasil panen yang juga menurun akibat musim kemarau.

Harga getah karet mingguan di tingkat petani saat ini hanya berada di kisaran Rp17.000 per kilogram, turun dari sebelumnya yang mencapai Rp20.000 per kilogram.

Salah seorang petani asal Desa Badar Agung, Kecamatan Gunung Meraksa, Dapit, mengaku penurunan harga tersebut mulai dirasakan dalam beberapa pekan terakhir.

“Harga getah karet mingguan sekarang turun menjadi Rp17.000 per kilogram. Sebelumnya masih Rp20.000 per kilogram,” katanya, Senin (29/6/2026).

Tak hanya harga mingguan, harga getah karet bulanan juga mengalami penurunan menjadi Rp19.000 per kilogram, dari sebelumnya mencapai Rp22.000 per kilogram.

Berita lainnya :  Angin Segar bagi Petani Muba, Ribuan Hektare Eks Kawasan Hutan Siap Jadi Milik Rakyat

Menurut Dapit, kondisi tersebut membuat pendapatan petani berkurang drastis. Di sisi lain, produksi getah yang dihasilkan juga tidak maksimal sehingga penghasilan petani semakin tertekan.

Keluhan serupa disampaikan Gusep, petani karet lainnya. Ia mengatakan musim kemarau yang melanda wilayah OKU membuat produksi getah menurun karena pohon karet tidak mengeluarkan getah sebanyak biasanya.

Pasang Iklan di QueenNews.id

“Kemarau membuat hasil sadapan berkurang. Jadi bukan hanya harga yang turun, hasil panen juga ikut menurun,” ujarnya.

Kondisi itu membuat petani menghadapi tekanan ganda. Di satu sisi harga jual melemah, sementara di sisi lain produksi ikut menyusut akibat cuaca ekstrem.

Ternyata Bukan Hanya Faktor Lokal

Di balik penurunan harga tersebut, ternyata ada faktor lain yang lebih besar.

Sekretaris Asosiasi Petani Karet Indonesia (APKRINDO) Sumatera Selatan, Rudi Arpian, menjelaskan bahwa turunnya harga getah karet bukan semata-mata dipengaruhi kondisi di daerah, melainkan mengikuti pelemahan harga karet di pasar dunia.

Berita lainnya :  Ketua DPRD Sumsel Terima Kunjungan Kapolda, Perkuat Sinergi Legislatif dan Kepolisian

Menurutnya, harga getah karet dunia saat ini mengalami penurunan sekitar Rp2.189 per kilogram, sehingga berdampak langsung terhadap harga di tingkat petani.

“Kondisi ini lebih tepat disebut sebagai penyesuaian harga atau koreksi pasar setelah sebelumnya harga terus menguat selama beberapa bulan terakhir,” jelasnya.

Meski demikian, ia meminta petani tidak panik menghadapi kondisi tersebut. Rudi menyarankan agar petani tetap menjaga kualitas getah karet sehingga saat harga kembali membaik, hasil panen dapat dijual dengan nilai yang lebih tinggi.

“Harga dunia memang tidak bisa kita kendalikan. Yang bisa dilakukan petani adalah menjaga kualitas hasil sadapan agar tetap memiliki nilai jual yang baik ketika pasar kembali pulih,” katanya.

Pasang Iklan di QueenNews.id

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

Sekda Sumatera Selatan, Edward Candra.
SUMSEL MAJU

Sekda Sumsel Sebut Pelajar di Sumsel Jadi Garda Terdepan Pengelolaan Sampah

  • Selasa, 18 Februari 2025
Queennews. id — Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan melalui Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan (DLHP) menyelenggarakan peringatan Hari Peduli Sampah Nasional
Malam penghormatan atas pengabdian Pj Gubernur Sumatera Selatan sekaligus lepas sambut Pangdam II/Sriwijaya bertempat di Griya Agung Palembang.
SUMSEL MAJU

Malam Penghormatan Gubernur Sumsel serta Lepas Sambut Pangdam II/Sriwijaya

  • Rabu, 19 Februari 2025
QueenNews.id – Kakanwil Kemenkum Sumsel, Agato PP Simamora menghadiri langsung malam penghormatan atas pengabdian Pj Gubernur Sumatera Selatan sekaligus lepas