Bitcoin Uji Level US$85.000, Investor Pantau Katalis Ekonomi AS
QueenNews.id – Pergerakan Bitcoin (BTC) kembali menjadi perhatian pasar global setelah aset kripto terbesar tersebut memasuki fase konsolidasi di sekitar level US$79.000. Setelah sempat mencoba menguat menuju area US$82.000, laju kenaikan Bitcoin masih tertahan sehingga investor kini menunggu katalis baru yang dapat menentukan arah pergerakan berikutnya.
Jakarta, 7 September 2026 – FLOQ menilai Bitcoin berada pada periode penting yang dapat menentukan peluang penguatan menuju level US$85.000. Berdasarkan data internal FLOQ, harga Bitcoin tercatat bergerak di sekitar US$79.522 dengan rentang perdagangan harian antara US$79.081 hingga US$80.494. Dalam sepekan terakhir, BTC sempat menyentuh level tertinggi US$82.108 sebelum mengalami koreksi.
CEO & Founder FLOQ, Yudhono Rawis, menyebut kondisi tersebut sebagai fase konsolidasi yang membutuhkan konfirmasi lebih lanjut. Menurutnya, level US$82.000 menjadi area kunci yang harus berhasil dilewati Bitcoin apabila ingin membuka peluang kenaikan menuju target berikutnya.
“Bitcoin saat ini sedang berada dalam tahap menunggu arah baru dari pasar. Area US$82.000 menjadi hambatan penting karena beberapa kali menjadi resistance. Apabila level tersebut mampu ditembus dengan dukungan volume transaksi dan permintaan yang kuat, peluang Bitcoin menguji US$85.000 akan semakin besar,” ujar Yudhono.
Peluang Bitcoin Menuju US$85.000 Masih Terbuka
Dari sisi teknikal, Bitcoin masih menghadapi tekanan di zona US$80.000 hingga US$82.000. Kemampuan aset digital tersebut untuk kembali berada di atas area tersebut akan menjadi indikator penting apakah tren pemulihan dapat berlanjut atau justru memasuki fase pelemahan baru.
Meski pergerakan jangka pendek masih berfluktuasi, sentimen pasar terhadap potensi kenaikan Bitcoin tetap terjaga. Pasar prediksi sebelumnya memperkirakan peluang BTC menembus US$85.000 sebelum 2 Oktober 2026 berada di sekitar 77%. Namun, angka tersebut bersifat dinamis dan tidak dapat dianggap sebagai kepastian harga.
Yudhono menjelaskan bahwa pencapaian target tersebut tidak hanya bergantung pada faktor teknikal, tetapi juga kondisi likuiditas dan sentimen ekonomi global.
“Bitcoin membutuhkan dukungan yang lebih luas dari sisi fundamental. Pergerakan likuiditas, kebijakan moneter, serta tingkat kepercayaan investor terhadap aset berisiko akan menjadi faktor penting dalam menentukan arah pasar,” jelasnya.
Arus Dana ETF Jadi Faktor Pendukung
Di tengah volatilitas harga, minat investor institusional terhadap Bitcoin masih menunjukkan perkembangan positif. ETF Bitcoin di Amerika Serikat mencatat arus dana masuk bersih sekitar US$175 juta pada 4 September 2026. Arus positif tersebut menjadi sesi ketiga berturut-turut dengan total tambahan dana dari investor institusi.
BlackRock IBIT mencatat kontribusi sekitar US$117 juta, sementara Fidelity membukukan arus masuk sekitar US$57,22 juta. Sehari sebelumnya, total arus dana masuk ETF Bitcoin bahkan mencapai sekitar US$731 juta.
Menurut Yudhono, keberlanjutan arus dana ETF dapat menjadi sinyal bahwa investor institusional masih memiliki keyakinan terhadap prospek Bitcoin meskipun pasar sedang mengalami konsolidasi.
“Arus masuk ETF memperlihatkan bahwa permintaan institusional masih tetap ada. Jika tren ini berlanjut, dukungan dari sisi permintaan dapat membantu Bitcoin menjaga struktur penguatannya,” katanya.
Tiga Agenda Ekonomi AS Jadi Perhatian Pasar
Selain faktor internal pasar kripto, investor juga akan mencermati sejumlah agenda ekonomi Amerika Serikat yang berpotensi memengaruhi pergerakan Bitcoin sepanjang pekan ini.
Perhatian pertama tertuju pada pasar obligasi AS melalui lelang Treasury Note tenor 10 tahun pada 9 September 2026. Hasil lelang tersebut akan memberikan gambaran mengenai tingkat permintaan investor terhadap surat utang pemerintah AS.
Pada periode yang sama, kebijakan baru Treasury AS terkait peningkatan kapasitas program buyback obligasi jangka panjang juga mulai diterapkan. Kebijakan tersebut meningkatkan batas operasi liquidity-support buyback dari US$2 miliar menjadi minimal US$4 miliar per transaksi.
Selanjutnya, pasar akan menunggu rilis data inflasi Amerika Serikat, yaitu Producer Price Index (PPI) pada 10 September dan Consumer Price Index (CPI) pada 11 September. Data tersebut menjadi indikator penting bagi pasar dalam memperkirakan arah kebijakan Federal Reserve.
Sebelumnya, laporan ketenagakerjaan AS menunjukkan nonfarm payroll meningkat 162.000 pada Agustus dengan tingkat pengangguran tetap berada di 4,1%. Kondisi tersebut membuat investor kembali memperhatikan kemungkinan kebijakan moneter yang lebih ketat.
“Data PPI dan CPI akan menjadi penentu penting. Jika inflasi menunjukkan penurunan, pasar dapat melihat peluang kebijakan yang lebih longgar. Namun jika inflasi kembali meningkat, tekanan terhadap aset berisiko seperti Bitcoin dapat kembali muncul,” ungkap Yudhono.
Keputusan The Fed Menjadi Penentu Berikutnya
Fokus utama pasar kemudian akan tertuju pada rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada 15–16 September 2026. Keputusan suku bunga The Fed yang diumumkan pada 16 September akan menjadi salah satu faktor terbesar yang memengaruhi sentimen investor.
Namun, menurut Yudhono, pasar tidak hanya melihat keputusan suku bunga, tetapi juga arah komunikasi The Fed mengenai kondisi ekonomi, inflasi, dan kebijakan ke depan.
“Nada kebijakan The Fed akan menjadi faktor penting. Sikap yang lebih dovish dapat memberikan dorongan bagi likuiditas pasar, sedangkan pandangan yang tetap hawkish berpotensi memperpanjang fase konsolidasi Bitcoin,” ujarnya.
Dengan berbagai faktor tersebut, Bitcoin saat ini berada pada titik penting. Level US$82.000 menjadi batas utama yang perlu diperhatikan dalam jangka pendek. Jika berhasil ditembus dan dipertahankan, peluang menuju US$85.000 semakin terbuka.
Sebaliknya, apabila tekanan dari faktor makro meningkat, Bitcoin masih berpotensi bergerak volatil dan menguji area support lebih rendah.
FLOQ menilai September menjadi periode krusial bagi arah pasar Bitcoin berikutnya. Kombinasi antara arus dana ETF, minat investor institusional, serta perkembangan ekonomi Amerika Serikat akan menjadi faktor utama yang menentukan apakah Bitcoin mampu melanjutkan pemulihan atau kembali menghadapi tekanan.
“Investor perlu melihat pasar secara menyeluruh, bukan hanya mengikuti pergerakan harga harian. Data ekonomi, arus modal institusi, dan respons Bitcoin terhadap level teknikal akan memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai arah berikutnya,” tutup Yudhono.
Press release ini juga sudah tayang di VRITIMES


