BISNIS DAN DTRAVEL

Bitcoin Turun 45,98%, FLOQ Ungkap Peluang Rebound hingga Akhir 2026

Pasang Iklan di QueenNews.id

QueenNews.id – Pergerakan harga Bitcoin (BTC) kembali menjadi perhatian pelaku pasar aset digital setelah mengalami koreksi signifikan sepanjang tahun berjalan. Berdasarkan data perdagangan pada 14 Agustus 2026, harga Bitcoin tercatat berada di level sekitar US$63.334 atau mengalami penurunan tahunan sebesar 45,98 persen.

Meski penurunan tersebut terlihat cukup besar, FLOQ menilai kondisi tersebut belum dapat langsung diartikan sebagai tanda bahwa Bitcoin telah memasuki fase penurunan jangka panjang (bearish struktural). Koreksi yang terjadi dinilai perlu dilihat dalam konteks siklus pasar setelah Bitcoin sebelumnya mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa.

CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis, menjelaskan bahwa penurunan harga Bitcoin saat ini lebih mencerminkan proses penyesuaian setelah periode kenaikan yang sangat agresif pada tahun sebelumnya.

“Koreksi Bitcoin perlu dilihat secara menyeluruh, bukan hanya dari angka penurunannya. Setelah mencapai harga tertinggi di atas US$120.000, pasar secara alami mengalami fase normalisasi. Kondisi ini lebih menggambarkan proses konsolidasi setelah periode euforia harga, bukan semata-mata perubahan menuju tren bearish jangka panjang,” ujar Yudho dalam keterangannya.

Menurutnya, sejarah pergerakan Bitcoin menunjukkan bahwa fase koreksi dan konsolidasi merupakan bagian yang sering terjadi dalam siklus aset kripto. Setelah mengalami kenaikan besar, Bitcoin biasanya membutuhkan waktu untuk menemukan keseimbangan harga baru sebelum menentukan arah berikutnya.

Saat ini, area harga US$62.000 hingga US$65.000 menjadi zona penting yang perlu diperhatikan investor. Kemampuan Bitcoin bertahan di area tersebut dinilai dapat menjadi indikator bahwa tekanan jual mulai berkurang dan masih terdapat permintaan pasar yang mampu menjaga stabilitas harga.

“Hal yang perlu menjadi perhatian bukan hanya seberapa besar koreksi yang terjadi, tetapi bagaimana kemampuan Bitcoin mempertahankan level support penting. Jika area tersebut tetap bertahan, peluang pemulihan masih terbuka,” jelas Yudho.

Proyeksi Bitcoin Menuju US$150.000 Masih Menjadi Perhatian Pasar

Memasuki paruh kedua 2026, berbagai proyeksi terhadap harga Bitcoin masih menunjukkan rentang yang cukup beragam. Perbedaan pandangan tersebut mencerminkan tingginya dinamika pasar aset digital yang sangat dipengaruhi oleh sentimen ekonomi global.

Berita lainnya :  Strategi Pendanaan yang Pruden Jaga Kinerja BRI Finance di Tengah BI Rate Tinggi

Dalam skenario konservatif, sejumlah analis memperkirakan Bitcoin dapat bergerak di kisaran US$45.000–US$90.000. Sementara itu, skenario yang lebih optimistis memperkirakan BTC berpotensi kembali berada di area US$95.000 hingga US$120.000.

Pada skenario paling positif, Bitcoin bahkan diproyeksikan memiliki peluang menuju level sekitar US$150.000. Namun, Yudho mengingatkan bahwa angka tersebut tidak dapat dianggap sebagai kepastian karena karakter Bitcoin yang memiliki tingkat volatilitas tinggi.

“Saya tidak melihat satu angka tertentu sebagai prediksi pasti. Bitcoin memiliki sejarah pergerakan yang sangat dinamis dan sering kali bergerak melampaui maupun berada di bawah ekspektasi pasar,” katanya.

Menurut Yudho, investor sebaiknya lebih memperhatikan indikator fundamental yang dapat memberikan gambaran arah pasar, dibanding hanya berfokus pada target harga tertentu.

Salah satu faktor utama adalah pergerakan dana pada ETF Bitcoin spot. Arus dana masuk yang konsisten dari investor institusional dapat menjadi sinyal meningkatnya kepercayaan pasar terhadap Bitcoin.

Pasang Iklan di QueenNews.id

Selain itu, kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau The Fed juga menjadi faktor penting. Jika kebijakan moneter bergerak lebih longgar, minat terhadap aset berisiko seperti Bitcoin berpotensi meningkat.

Sebaliknya, apabila Bitcoin kehilangan dukungan di area US$60.000, tekanan jual dapat kembali meningkat dan membuka peluang terjadinya koreksi lanjutan.

Empat Faktor Utama yang Menentukan Arah Bitcoin

FLOQ melihat terdapat beberapa faktor utama yang akan menentukan pergerakan Bitcoin hingga akhir tahun, yaitu kebijakan moneter The Fed, arus dana ETF Bitcoin, kondisi ekonomi dan geopolitik global, serta faktor teknikal dalam siklus pasar kripto.

Data inflasi Amerika Serikat, pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah AS, hingga perkembangan konflik geopolitik menjadi faktor yang dapat memengaruhi keputusan investor global dalam mengambil risiko.

Selain itu, aktivitas investor institusional juga menjadi perhatian utama. Jika arus masuk ETF Bitcoin kembali meningkat secara konsisten, hal tersebut dapat menjadi katalis positif bagi harga BTC.

Berita lainnya :  Pernah Dengar Metode Sinking Fund? Cara Menyiapkan Pengeluaran Besar Tanpa Bikin Keuangan Kaget

Sementara dari sisi Indonesia, Yudho menilai pergerakan domestik bukan menjadi faktor utama pembentukan harga Bitcoin karena pasar BTC bersifat global. Namun, kondisi dalam negeri tetap dapat memengaruhi perilaku investor lokal.

Beberapa faktor yang perlu diperhatikan antara lain perkembangan regulasi aset digital, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, serta semakin berkembangnya produk investasi berbasis aset kripto di Indonesia.

Pergerakan rupiah juga memiliki pengaruh terhadap harga Bitcoin dalam denominasi lokal. Ketika rupiah melemah terhadap dolar AS, harga Bitcoin dalam rupiah dapat meningkat meskipun harga BTC dalam dolar relatif stabil.

Investor Perlu Mencermati Agenda BI dan The Fed

Dalam waktu dekat, pasar akan mencermati sejumlah agenda ekonomi penting, termasuk Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 18–19 Agustus 2026 serta publikasi notulen rapat FOMC The Fed pada 19 Agustus 2026.

Kedua agenda tersebut berpotensi memberikan dampak terhadap volatilitas pasar keuangan, termasuk nilai tukar rupiah dan aset digital seperti Bitcoin.

Yudho menilai komunikasi kebijakan dari BI maupun The Fed akan menjadi perhatian utama investor karena dapat memengaruhi arah sentimen pasar.

“Investor perlu melihat kombinasi kebijakan moneter domestik dan global. Ketika dua sentimen besar muncul dalam waktu berdekatan, potensi volatilitas pasar biasanya meningkat,” ujarnya.

Menurutnya, Bitcoin perlu mampu melewati area US$65.300 secara kuat untuk membuka peluang kenaikan berikutnya. Sebaliknya, apabila gagal mempertahankan level sekitar US$64.000, tekanan terhadap harga BTC masih berpotensi berlanjut.

Untuk mendukung peningkatan pemahaman masyarakat terhadap aset digital, FLOQ juga menyediakan FLOQ Academy, sebuah platform edukasi gratis yang membahas berbagai topik mulai dari pasar aset kripto, blockchain, hingga perkembangan Web3.

Melalui edukasi yang berkelanjutan, FLOQ berharap masyarakat dapat memahami risiko dan peluang aset digital secara lebih baik sebelum mengambil keputusan investasi.

Press Release ini juga sudah tayang di VRITIMES.

Pasang Iklan di QueenNews.id

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

BISNIS DAN DTRAVEL

Merayakan Tiga Tahun Inovasi Akar Rumput: Accelerator Lab UNDP Indonesia Dorong Pembangunan Perkotaan Berkelanjutan

  • Kamis, 13 Februari 2025
Seiring laju urbanisasi dan tantangan iklim, peran masyarakat menjadi semakin penting sebagai pendorong perubahan. Sejak 2021, Accelerator Lab UNDP Indonesia
BISNIS DAN DTRAVEL

Jasavalas.com Resmi Diluncurkan, Permudah Pengiriman Uang ke China dengan Biaya Rendah

  • Selasa, 18 Februari 2025
QueenNews.id – Jasa Valas, perusahaan baru di bidang remitansi, dengan bangga meluncurkan situs resminya, Jasavalas.com, pada Februari 2025. Platform ini