Ria Ricis Tegur Jemaah Umrah yang Sebut Moana Sombong, Ungkap Alasan Putrinya Menolak Foto
QueeenNews.id — Nama Ria Ricis kembali menjadi perhatian publik setelah menceritakan pengalaman kurang menyenangkan saat menjalankan ibadah umrah di Tanah Suci.
Kali ini, sorotan tertuju pada momen ketika ia menegur seorang jemaah perempuan yang menyebut putrinya, Moana, sombong karena tidak bersedia diajak berfoto.
Pengalaman tersebut dibagikan Ricis melalui video di kanal YouTube pribadinya. Dalam ceritanya, mantan istri Teuku Ryan itu mengungkapkan bahwa selama berada di Masjid Nabawi, dirinya beberapa kali bertemu dengan orang-orang yang ingin mengabadikan momen bersama dirinya maupun sang putri.
Ricis memahami bahwa dirinya dan Moana kerap menarik perhatian masyarakat. Namun, ia juga menyadari bahwa anak seusia Moana belum tentu selalu berada dalam suasana hati yang sama, terlebih ketika sedang menjalani perjalanan yang melelahkan.
Menurut Ricis, keinginan Moana untuk berfoto bisa berubah sewaktu-waktu. Ketika putrinya bersedia, ia tidak keberatan melayani permintaan tersebut. Sebaliknya, jika Moana sedang tidak ingin difoto, Ricis memilih menghormati keinginan anaknya tanpa memberikan paksaan.
“Ada ibu-ibu minta foto, terus kan Moana ini mood-nya ya udah, mau mau, enggak enggak. Kalau mau foto ya bagus, kalau enggak ya juga enggak, karena aku sendiri sebagai ibunya juga kalau dia enggak mau foto ya udah,” ujar Ria Ricis.
Moana Disebut Sombong karena Menolak Berfoto
Situasi yang semula berjalan biasa kemudian berubah ketika seorang perempuan yang melintas meminta berfoto bersama Ricis dan Moana. Namun, saat itu Moana justru memilih menyembunyikan wajahnya dan tidak menunjukkan keinginan untuk berfoto.
Ricis menduga putrinya sedang merasa bosan atau kelelahan sehingga tidak bersedia memenuhi permintaan tersebut. Baginya, respons seperti itu masih wajar mengingat Moana masih berusia sekitar dua tahun ketika pengalaman tersebut diceritakan.
Namun, Ricis mengaku terkejut ketika perempuan tersebut justru melontarkan komentar yang menyebut Moana sombong sambil berlalu dari hadapannya.
“Ibunya sambil lewat ngomong apa coba? ‘Sombong banget ya Moana, sombong banget.’ Moana dibilang sombong! Wah, astagfirullahaladzim, di masjid, coy,” tutur Ricis saat menceritakan kembali kejadian tersebut.
Ucapan itu membuat Ricis merasa perlu memberikan penjelasan. Ia kemudian menyusul perempuan tersebut untuk menanggapi komentar yang ditujukan kepada putrinya.
Ricis mempertanyakan alasan seorang anak yang masih sangat kecil dinilai sombong hanya karena tidak bersedia berfoto. Ia juga mengajak perempuan itu membayangkan bagaimana perasaannya apabila anaknya sendiri mendapat penilaian serupa dalam situasi yang sama.
“‘Astagfirullahaladzim, Ibu. Anak saya masih umur dua tahun, Ibu bilang anak saya sombong, Bu? Ntar kalau anak Ibu dibilang sombong mau enggak?’” ungkap Ricis saat menirukan percakapan tersebut.
Ia kemudian menegaskan bahwa Moana masih kecil dan belum selalu bisa memahami situasi sosial seperti orang dewasa.
Ria Ricis Ingin Keinginan Anak Tetap Dihormati
Lebih lanjut, Ricis menjelaskan bahwa dirinya tidak bermaksud mengabaikan orang-orang yang ingin berfoto bersama mereka. Ia memahami antusiasme masyarakat yang ingin menyapa atau mengabadikan momen dengan figur publik.
Meski demikian, menurut Ricis, permintaan untuk berfoto tetap perlu mempertimbangkan kondisi anak. Ketika Moana bersedia, ia akan memberikan kesempatan. Namun, jika putrinya menolak, Ricis memilih tidak memaksakan kehendak hanya demi memenuhi permintaan orang lain.
Sikap tersebut mencerminkan pendekatannya dalam menghormati kenyamanan anak, termasuk ketika berada di tempat umum. Anak kecil masih belajar mengenali dan menyampaikan perasaannya, sehingga penolakan dalam situasi tertentu tidak serta-merta dapat diartikan sebagai perilaku tidak sopan.
Kondisi seperti rasa lelah, bosan, atau keinginan untuk beristirahat dapat memengaruhi respons anak terhadap lingkungan sekitarnya. Karena itu, orang dewasa perlu mempertimbangkan usia dan kondisi anak sebelum memberikan penilaian terhadap sikapnya.
Pengalaman yang diceritakan Ricis ini pun mengingatkan bahwa tidak semua anak selalu nyaman berinteraksi atau berfoto dengan orang yang baru ditemuinya. Menghormati batas kenyamanan anak menjadi salah satu cara untuk membangun interaksi yang lebih sehat, tanpa mengabaikan kesopanan kepada orang lain.
Kisah tersebut sekaligus membuka ruang diskusi mengenai bagaimana masyarakat sebaiknya bersikap ketika bertemu anak figur publik di tempat umum, termasuk saat menjalankan ibadah. Keinginan untuk berfoto dapat dipahami, tetapi kesediaan anak dan orang tuanya tetap perlu dihormati.

