LAIN-LAIN

Bitcoin Kembali Tertekan di Bawah US$80.000, Pasar Kripto Menanti Arah The Fed

Pasang Iklan di QueenNews.id

QueenNews.id – Harga Bitcoin (BTC) kembali bergerak di bawah level psikologis US$80.000 setelah sebelumnya sempat menguat hingga menembus US$82.000. Pelemahan ini terjadi ketika investor global mulai meningkatkan kewaspadaan menyusul rilis data ekonomi Amerika Serikat (AS) yang menunjukkan kondisi pasar tenaga kerja masih solid.

Pada perdagangan Sabtu (5/9) sekitar pukul 09.00 WIB, Bitcoin tercatat berada di kisaran US$79.578 atau mengalami koreksi sekitar 1,9 persen dalam 24 jam terakhir. Dalam periode perdagangan yang sama, aset kripto terbesar dunia tersebut sempat mencapai titik tertinggi di level US$82.108 dan bergerak turun hingga menyentuh area terendah sekitar US$78.706.

Tekanan jual terhadap Bitcoin meningkat setelah Bureau of Labor Statistics (BLS) Amerika Serikat melaporkan adanya tambahan 162.000 pekerjaan nonpertanian pada Agustus 2026. Angka tersebut berada jauh di atas ekspektasi pasar. Sementara itu, tingkat pengangguran AS masih bertahan di level 4,1 persen.

Data tersebut memberikan sinyal bahwa perekonomian AS masih memiliki daya tahan yang cukup kuat. Kondisi ini membuat pelaku pasar kembali memperhitungkan kemungkinan Federal Reserve atau The Fed mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama.

CEO sekaligus Founder FLOQ, Yudhono Rawis, menilai pergerakan Bitcoin saat ini lebih banyak dipengaruhi sentimen ekonomi global dibandingkan perubahan terhadap fundamental aset kripto itu sendiri.

“Pasar Bitcoin masih sangat bergantung pada perkembangan makroekonomi, khususnya arah kebijakan suku bunga dan kondisi likuiditas global. Ketika data tenaga kerja AS menunjukkan kekuatan, investor cenderung melakukan penyesuaian terhadap ekspektasi kebijakan The Fed sehingga memicu tekanan sementara pada aset berisiko,” ujar Yudhono.

Bitcoin Berada di Persimpangan Level US$78.500

Dari sisi teknikal, FLOQ melihat area US$78.500 hingga US$79.200 menjadi wilayah penting yang akan menentukan arah Bitcoin dalam jangka pendek.

Apabila BTC mampu bertahan di zona tersebut, peluang pemulihan masih terbuka untuk kembali menguji level US$80.600 hingga US$82.000. Namun, jika tekanan jual semakin besar dan Bitcoin kehilangan dukungan US$78.500, potensi penurunan lanjutan menuju area US$76.800 dapat kembali terjadi.

Berita lainnya :  Hj Lucianty Hadiri Temu Kangen dengan Insan Seni Kuda Lumping di Desa Air Putih

Yudhono menjelaskan bahwa investor perlu memperhatikan kemampuan Bitcoin membangun momentum beli baru setelah mengalami koreksi.

“Selama Bitcoin masih berada di atas area support tersebut, peluang pemulihan belum tertutup. Tantangan berikutnya adalah bagaimana BTC mampu mendapatkan tenaga untuk melewati resistance US$80.600 dan mengonfirmasi penguatan dengan menembus US$82.000. Jika level itu berhasil dipertahankan, target berikutnya berpotensi mengarah ke sekitar US$85.000,” katanya.

Dana Institusi Masih Mengalir Melalui ETF Bitcoin

Di tengah tekanan akibat sentimen makro, pasar juga mendapatkan dukungan dari meningkatnya minat investor institusional. Produk Spot Bitcoin ETF di Amerika Serikat mencatat arus masuk bersih sekitar US$730,9 juta pada 3 September 2026.

Arus dana tersebut menjadi salah satu catatan inflow harian terbesar dalam beberapa bulan terakhir. Menariknya, aliran modal tersebut terjadi ketika Bitcoin kembali bergerak menuju level US$82.000 sebelum akhirnya terkoreksi akibat respons pasar terhadap data ekonomi AS.

Pasang Iklan di QueenNews.id

Menurut FLOQ, kondisi tersebut menunjukkan adanya keseimbangan antara kekhawatiran investor terhadap kebijakan moneter dan keyakinan institusi terhadap prospek jangka panjang Bitcoin.

“Volatilitas harga dalam jangka pendek tidak selalu menggambarkan perubahan pada permintaan struktural. Masuknya dana melalui ETF menunjukkan bahwa sebagian investor besar masih melihat Bitcoin sebagai aset yang memiliki nilai strategis dalam portofolio mereka,” jelas Yudhono.

Inflasi AS dan Rapat FOMC Jadi Penentu Berikutnya

Pelaku pasar kini mengalihkan perhatian pada laporan inflasi Amerika Serikat periode Agustus yang akan dirilis pada 11 September 2026. Data Consumer Price Index (CPI) tersebut menjadi indikator penting untuk melihat langkah berikutnya yang mungkin diambil The Fed.

Sebelumnya, inflasi AS pada Juli tercatat meningkat sebesar 3,4 persen secara tahunan. Jika tekanan inflasi kembali menunjukkan tanda peningkatan, pasar dapat memperkirakan kebijakan moneter yang lebih ketat.

Selain data CPI, perhatian investor juga tertuju pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada 15–16 September 2026. Keputusan suku bunga The Fed pada 16 September akan menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi pergerakan aset berisiko, termasuk Bitcoin.

Berita lainnya :  Tampil Gemilang, Tim Mini Soccer BRI Region 6 Sabet Juara 1 Geothermal League 2026

FLOQ memperkirakan arah Bitcoin sepanjang September masih akan dipengaruhi oleh kombinasi data ekonomi AS, kebijakan The Fed, kondisi likuiditas global, serta keberlanjutan arus investasi institusional.

Dalam jangka pendek, Bitcoin diperkirakan masih menghadapi fase volatilitas tinggi. Area US$78.500 menjadi batas penting untuk menjaga peluang pemulihan, sementara level US$82.000 menjadi kunci apabila Bitcoin ingin membangun tren kenaikan yang lebih kuat.

Di sisi lain, meningkatnya partisipasi investor institusional melalui ETF memberikan indikasi bahwa minat terhadap Bitcoin masih tetap ada meski pasar menghadapi tekanan ekonomi global.

Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan merupakan rekomendasi maupun ajakan untuk membeli atau menjual aset kripto.

Tentang FLOQ

FLOQ adalah platform perdagangan aset digital yang berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). FLOQ berkomitmen untuk menghadirkan pengalaman investasi yang aman, transparan, dan mudah diakses oleh masyarakat. Dengan fokus pada inovasi, edukasi, serta kepatuhan terhadap regulasi, FLOQ bertujuan untuk mendukung pertumbuhan ekosistem aset digital di Indonesia. FLOQ memiliki komunitas aktif dengan lebih dari 250.000 followers yang tersebar di tujuh platform media sosial, didukung oleh lebih dari 25.000 anggota komunitas aktif. FLOQ juga berkomitmen untuk meningkatkan literasi dan edukasi aset digital melalui FLOQ Akademi yang dapat diakses secara gratis oleh pengguna maupun masyarakat umum. Hingga saat ini, FLOQ telah mencatat lebih dari 1,8 juta pengguna terdaftar dan lebih dari 2 juta unduhan aplikasi. Platform ini mendukung lebih dari 100 aset digital dan terus berfokus pada pengembangan ekosistem serta kolaborasi strategis untuk menghadirkan manfaat nyata bagi pengguna di era ekonomi digital.

Press release ini juga sudah tayang di VRITIMES

Pasang Iklan di QueenNews.id

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

Aksi ratusan Drone yang terbang di atas Sungai Musi.
LAIN-LAIN

Perayaan Malam Tahun Baru Spektakuler di Palembang dengan Ratusan Drone Menari di Atas Sungai Musi

  • Senin, 1 Januari 2024
Queennews.id – Detik- detik jelang malam pergantian tahun di Kota Palembang tahun ini menampilkan pertunjukan yang luar biasa bertajuk “Palembang Bersinar”.
Ilustrasi. (Ist)
LAIN-LAIN

Berikut 5 Cara Mengatasi Kulit yang Wajah Kering

Queennews.id — Setiap perempuan tentu menginginkan memiliki kulit wajah yang sehat, lembab dan glowing, namun berbagai permasalahan kulit kerapkali menghampiri,