Banyak Proyek AI Gagal di Pasar, Telkom AI Connect Ungkap Strategi Agar Inovasi Digital Bernilai Bisnis
QueenNews.id – Perkembangan teknologi Artificial Intelligence (AI) yang semakin pesat tidak selalu berbanding lurus dengan keberhasilan sebuah produk di pasar. Banyak proyek AI dengan teknologi canggih justru mengalami kegagalan karena tidak memiliki strategi bisnis yang matang, mulai dari pemetaan kebutuhan pengguna, model monetisasi, hingga pendekatan pemasaran yang tepat.
Memiliki algoritma unggulan dan tingkat akurasi tinggi ternyata belum cukup untuk memastikan sebuah solusi AI dapat diterima masyarakat maupun dunia industri. Tanpa pemahaman terhadap kebutuhan pasar, produk AI berisiko berhenti hanya sebagai prototipe tanpa memberikan dampak bisnis yang berkelanjutan.
Melihat tantangan tersebut, Telkom AI Center of Excellence melalui jaringan Telkom AI Connect menggelar webinar bertajuk “AI Project Go-to-Market & Monetization Strategy” pada Senin, 20 Juli 2026. Kegiatan yang berlangsung secara daring melalui platform Zoom ini menjadi bagian dari program pendampingan bagi peserta AI Connect Innovation Lab agar mampu membawa inovasi berbasis AI dari tahap pengembangan menuju implementasi pasar.
Webinar tersebut menghadirkan M. Ziaelfikar Albaba, CEO Nortis AI sekaligus Business and Community Lead (BCL) Telkom AI Connect Malang, sebagai pembicara utama. Dalam sesi tersebut, ia membagikan wawasan mengenai pentingnya strategi Go-to-Market (GTM) dan monetisasi sebagai fondasi utama dalam membangun produk AI yang memiliki nilai komersial.
Strategi Bisnis Jadi Faktor Penentu Kesuksesan Produk AI
Dalam pemaparannya, Ziaelfikar menjelaskan bahwa salah satu tantangan terbesar produk AI bukan hanya menciptakan teknologi yang unggul, tetapi memastikan teknologi tersebut mampu menyelesaikan masalah nyata yang dihadapi pengguna.
Ia menyoroti fenomena sejumlah produk AI yang memiliki kemampuan teknis tinggi, tetapi kesulitan menghasilkan keuntungan karena belum menemukan kesesuaian antara solusi yang ditawarkan dengan kebutuhan pasar atau problem-solution fit.
Menurutnya, pengembang AI perlu memahami berbagai aspek bisnis sejak awal, termasuk menentukan target pengguna, membangun model bisnis, memilih strategi monetisasi, hingga menyusun struktur harga yang relevan.
Beberapa pendekatan monetisasi seperti layanan berbasis langganan atau Software as a Service (SaaS) dapat menjadi pilihan bagi pengembang AI. Namun, strategi tersebut harus disesuaikan dengan karakteristik pasar dan nilai yang benar-benar dirasakan pengguna.
Selain aspek bisnis, peserta juga mendapatkan pemahaman mengenai pentingnya membangun kepercayaan pasar terhadap teknologi AI. Pasalnya, persepsi yang keliru mengenai kemampuan AI dapat menjadi hambatan dalam proses adopsi.
Edukasi Pasar Bangun Kepercayaan Pengguna
Ziaelfikar mengingatkan bahwa salah satu tantangan dalam pengembangan AI adalah munculnya ekspektasi berlebihan dari pengguna. Banyak pihak menganggap AI sebagai solusi sempurna yang mampu menyelesaikan seluruh permasalahan secara otomatis.
“Asumsi yang kita semua perlu hindari, apalagi mengenai AI, adalah menganggap dan menilai AI terlalu tinggi, dalam arti memercayai AI hingga ‘percaya buta’. Jika hal demikian terjadi, calon pengguna justru bisa menjadi ragu dan takut untuk mencoba menggunakan AI,” ujar M. Ziaelfikar Albaba.
Menurutnya, pengembang perlu memberikan pemahaman yang realistis mengenai kemampuan dan batasan teknologi AI. Dengan menjelaskan manfaat secara transparan, pengguna akan lebih mudah memahami bagaimana AI dapat membantu pekerjaan mereka secara efektif.
Pendekatan tersebut dinilai penting untuk membangun kepercayaan sekaligus mempercepat proses adopsi teknologi. Produk AI yang mampu menunjukkan nilai nyata bagi pengguna memiliki peluang lebih besar untuk bertahan dan berkembang di pasar.
Dorong Inovator AI Siap Masuk Industri
Webinar ini menjadi bagian dari rangkaian pembinaan Telkom AI Connect Makassar kepada enam tim inovator yang sedang mengembangkan berbagai solusi berbasis AI. Pendampingan tidak hanya berfokus pada pengembangan teknologi, tetapi juga mencakup kesiapan bisnis agar inovasi yang dihasilkan dapat memberikan manfaat nyata.
Melalui program tersebut, para peserta mendapatkan pembekalan mengenai strategi pengembangan produk, validasi pasar, hingga pendekatan monetisasi. Harapannya, solusi AI yang dikembangkan tidak berhenti pada tahap eksperimen, tetapi mampu diterapkan secara luas dan menghasilkan nilai ekonomi.
Sebagai bagian dari Telkom AI Center of Excellence (AI CoE) yang diinisiasi oleh PT Telkom Indonesia, Telkom AI Connect menjadi wadah pembelajaran, showcase inovasi, serta konsultasi bisnis untuk mempercepat adopsi AI dan transformasi digital di Indonesia.
Program ini hadir di sembilan kota di Indonesia dengan tujuan membangun kapabilitas AI yang lebih merata, relevan, dan berkelanjutan. Melalui kolaborasi antara pelaku teknologi, industri, dan komunitas inovasi, Telkom AI Connect berupaya memperkuat ekosistem AI nasional agar mampu bersaing di tingkat global.


