Indonesia–India Perkuat Kemitraan Strategis di Tengah Dinamika Geopolitik Dunia
QueenNews.id – Hubungan panjang antara Indonesia dan India yang telah terjalin selama ribuan tahun kini memasuki fase baru yang lebih strategis. Kedua negara dipandang memiliki peluang besar untuk memperkuat posisi di panggung global melalui kerja sama yang tidak hanya berlandaskan sejarah peradaban, tetapi juga pada kepentingan masa depan di bidang ekonomi, teknologi, dan geopolitik.
Kunjungan Perdana Menteri India, Shri Narendra Modi, ke Indonesia pada 7 Juli 2026 menjadi momentum penting dalam memperkuat kembali hubungan bilateral kedua negara. Pertemuan tersebut merupakan kunjungan balasan atas kehadiran Presiden Prabowo Subianto dalam peringatan Hari Republik India pada 2024, sekaligus membuka peluang penguatan kemitraan strategis yang lebih komprehensif.
Secara historis, Indonesia dan India memiliki keterhubungan peradaban yang kuat melalui jalur perdagangan Samudra Hindia. Pertukaran budaya, agama, bahasa, hingga seni dan filsafat telah membentuk jejak panjang hubungan kedua bangsa. Pengaruh Hindu-Buddha dari India bahkan meninggalkan warisan budaya yang masih terlihat hingga kini di Indonesia, seperti Borobudur, Prambanan, wayang, serta kisah epik Ramayana dan Mahabharata dalam tradisi lokal.
Namun, hubungan tersebut kini tidak lagi cukup hanya dipahami sebagai warisan sejarah. Tantangan global menuntut kedua negara untuk bertransformasi dari sekadar hubungan kultural menjadi kemitraan strategis berbasis inovasi. Sektor-sektor seperti kecerdasan buatan, ekonomi digital, semikonduktor, energi bersih, pertahanan, hingga keamanan siber menjadi fokus baru kerja sama ke depan.
Di tengah perubahan geopolitik global dan persaingan Amerika Serikat–Tiongkok, Indonesia dan India dipandang sebagai kekuatan menengah yang memiliki peran penting dalam membentuk tatanan dunia baru. India dengan pertumbuhan ekonomi pesat dan kekuatan digitalnya, serta Indonesia dengan sumber daya alam strategis dan posisi geografis yang menghubungkan dua samudra, dinilai saling melengkapi.
Meski demikian, hubungan ekonomi kedua negara masih menghadapi ketimpangan. Perdagangan Indonesia masih didominasi ekspor komoditas mentah, sementara India lebih banyak mengekspor produk bernilai tambah tinggi seperti farmasi dan teknologi. Kondisi ini menunjukkan perlunya transformasi menuju kerja sama berbasis industri, inovasi, dan transfer teknologi.
Dari sisi investasi, kesenjangan juga masih terlihat jelas. Data terbaru menunjukkan arus investasi India ke Indonesia masih jauh lebih besar dibandingkan investasi Indonesia ke India. Hal ini menjadi sinyal bahwa ruang kerja sama ekonomi kedua negara masih sangat terbuka lebar.
Sebagai anggota BRICS, G20, dan WTO, kedua negara kini berada dalam satu platform global yang sama untuk memperkuat posisi negara berkembang. Keikutsertaan Indonesia di BRICS sejak 2025 memperluas ruang diplomasi dan memperkuat kolaborasi Selatan–Selatan.
Ke depan, kemitraan Indonesia–India diharapkan tidak hanya berfokus pada perdagangan, tetapi juga pengembangan ekosistem teknologi, industri manufaktur, ekonomi digital, dan riset bersama. Dengan pendekatan ini, kedua negara tidak hanya menjadi pasar global, tetapi juga aktor utama dalam inovasi dunia.


